Darilaut – Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Turk mengatakan perang di Timur Tengah telah menjadikan Lebanon sebagai negara paling mematikan bagi pekerja media tahun ini. Selain itu, tidak ada negara yang menawarkan lingkungan yang aman untuk menjadi seorang jurnalis.
Türk menyoroti ancaman yang semakin meningkat terhadap media dalam sebuah pesan menjelang Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day), yang diperingati setiap tahun pada tanggal 3 Mei.
“Ketika serangan terhadap media dinormalisasi, kebebasan itu sendiri mulai membusuk, dan bersamaan dengan itu, fondasi perdamaian, keamanan, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Pekerjaan yang Berbahaya
Melansir UN News, Türk memberikan penghormatan kepada para reporter dan fotografer pemberani di seluruh dunia “yang mendokumentasikan kekejaman yang mengerikan, mengungkap korupsi, dan meneliti operasi bisnis.”
Türk mencatat bahwa “jurnalisme saat ini telah menjadi profesi yang tidak aman dan, kadang-kadang, berbahaya” karena pekerja media telah “dibom di dalam mobil mereka, diculik dari kantor mereka, dibungkam di balik jeruji besi, dan dipecat dari pekerjaan mereka.”
Setidaknya 14 jurnalis telah tewas sejak Januari, hanya sekitar sepersepuluh dari pembunuhan dalam dua dekade terakhir yang berujung pada pertanggungjawaban penuh, dan meliput konflik bersenjata menimbulkan risiko tertinggi.




