Dari 50 responden yang diteliti, sebanyak 54 persen memiliki pengetahuan pada kategori “cukup”, 38 persen pada kategori “baik”, dan 8 persen masih berada pada kategori “kurang”.
Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sebenarnya sudah pernah mendengar atau mengetahui informasi dasar tentang TB, tetapi pemahaman mereka belum sepenuhnya benar.
Masalah terbesar justru terletak pada miskonsepsi. Sebagian responden masih meyakini bahwa TB dapat menular melalui berbagi alat makan atau kontak sosial biasa. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa penderita TB sebaiknya dijauhi untuk menghindari penularan.
Padahal, secara medis, TB paru menular terutama melalui droplet atau percikan udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan lewat sendok, piring, atau berjabat tangan. Kesalahpahaman semacam ini bukan hal sepele.
Ketika masyarakat percaya bahwa penderita TB harus dihindari, dampak yang muncul bukan hanya rasa takut, tetapi juga stigma sosial. Pasien TB bisa mengalami pengucilan, rasa malu, bahkan memilih menyembunyikan penyakitnya karena takut dicap negatif oleh lingkungan sekitar.
Di sinilah masalah menjadi lebih rumit. Stigma dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan di fasilitas kesehatan. Semakin lama penyakit tidak terdeteksi, semakin besar peluang penularan kepada anggota keluarga maupun masyarakat sekitar.




