Dengan kata lain, stigma justru bisa memperparah penyebaran TB, bukan mencegahnya. Penelitian ini juga menemukan bahwa tingkat pendidikan berperan besar terhadap kualitas pemahaman masyarakat. Sebanyak 66 persen responden berasal dari kelompok pendidikan rendah, yaitu tidak sekolah hingga SMP. Kondisi ini dapat memengaruhi literasi kesehatan, termasuk kemampuan memahami informasi medis yang benar.
Ini menjadi tantangan besar bagi program pengendalian TB di Indonesia. Selama ini edukasi kesehatan sering disampaikan dengan pendekatan formal yang belum tentu mudah dipahami semua kalangan. Bahasa medis yang terlalu teknis, penyuluhan satu arah, atau materi edukasi yang monoton sering kali gagal menjangkau kelompok masyarakat dengan literasi kesehatan terbatas. Karena itu, edukasi TB perlu berubah.
Masyarakat membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: media visual yang sederhana, video animasi, kampanye berbasis komunitas, hingga komunikasi menggunakan bahasa daerah. Edukasi yang efektif bukan hanya memberi informasi, tetapi juga meluruskan mitos yang sudah lama hidup di tengah masyarakat.
Secara nasional, temuan penelitian ini menjadi pengingat bahwa perang melawan TB tidak cukup hanya dengan menyediakan obat dan fasilitas kesehatan. Perlawanan terhadap TB juga harus dilakukan melalui perang melawan stigma, hoaks, dan kesalahpahaman.




