Pemerintah Sediakan Bantuan Bagi Warga yang Rumahnya Rusak Akibat Gempa Sulawesi Tengah

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto berdialog dengan masyarakat saat meninjau lokasi dampak gempa yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Jumat (19/6). FOTO: BNPB

Darilaut – Warga yang rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa darat magnitudo  6,7 di Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6) akan memperoleh bantuan dari pemerintah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto mengatakan tinggal ditenda hanya sementara. Bagi para warga yang rumahnya rusak akibat bencana akan mendapatkan bantuan stimulan dengan skema rumah rusak ringan 15 juta, rusak sedang 30 juta dan rusak berat 60 juta. Lebih lanjut untuk rumah rusak berat, BNPB akan menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH).

Hal ini disampaikan Suharyanto saat meninjau lokasi dampak gempa yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Jumat (19/6).

Bantuan Dana Tunggu Hunian ini diberikan kepada keluarga yang rumahnya rusak berat dan memilih untuk menyewa rumah atau tinggal di hunian kerabat mereka. Pemerintah pusat melalui BNPB menyediakan Dana Tunggu Hunian sampai hunian tetap mereka selesai dibangun.

“Kami kesini juga ingin memastikan penanganan darurat pascagempa bumi berjalan optimal serta kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Suharyanto.

Data sementara jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat gempa bumi di Sulawesi Tengah bertambah menjadi 2215 unit. Korban meninggal dunia 3 orang, 17 mengalami luka berat dan 101 luka ringan.

Bencana geologi ini melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong dan Donggala.

BNPB mencatat total kerugian material di empat wilayah tersebut tercatat sebanyak 1.995 rumah mengalami rusak ringan, 147 rumah suak sedang dan 73 rumah rusak berat.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan hasil asesmen lapangan, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan akibat gempa bumi.

Dalam agenda tersebut, Suharyanto memimpin rapat koordinasi bersama Bupati Sigi, pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, BPBD Kabupaten Sigi dan unsur Forkopimda di Posko Lapangan Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi.

Rapat koordinasi membahas perkembangan situasi terkini, kebutuhan penanganan darurat, percepatan pendataan kerusakan dan kerugian, serta langkah-langkah pemulihan yang perlu segera dilakukan untuk membantu masyarakat terdampak.

Dari hasil rapat koordinasi tadi, pada hari ke 4 setelah terjadi bencana, alhamdulillah sangat cepat penanganannya, sudah terbangun tenda-tenda yang dibangun dekat dengan rumah warga sebagai antisiapsi apabila ada gempa susulan, kata Suharyanto.

Saat rakor tersebut juga terdapat pembahasan mengenai potensi risiko banjir bandang, mengingat beberapa bukit secara visual tampak mengalami longsor disebagian titik.

Berdasarkan hasil pemantauan pemerintah daerah dengan menggunakan drone, sedikitnya terdapat 24 titik longsoran, 4 titik diantaranya tampak tersumbat material longsoran.

Sebagai respon cepat, Suharyanto memerintahkan untuk segera melakukan pengecekan secara berkala dengan tindakan sementara melalukan penyemprotan menggunakan pompa alkon pada titik sumbatan.

“Akibat hujan airnya tertahan, dikhawatirkan apabila curah hujan semakin tinggi akan berpotensi risiko terjadinya banjir bandang, tadi sudah sepakat akan dijebol dengan menggunakan pompa alkon pada bagian yang tersumbat,” kata Suharyanto.

Selain rapat koordinasi, Kepala BNPB juga meninjau sejumlah lokasi terdampak gempa di Kabupaten Sigi. Peninjauan dilakukan di Desa Sejahtera, Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki untuk melihat secara langsung kondisi rumah warga serta fasilitas umum dan fasilitas ibadah yang mengalami kerusakan berat.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BNPB juga berdialog dengan masyarakat guna menyerap aspirasi, mendengarkan kebutuhan mendesak di lapangan, serta memastikan bantuan yang diberikan dapat menjawab kebutuhan warga terdampak.

“Gereja yang rusak, karena Minggu besok sudah ibadah minta gereja sementara, kami sudah menyanggupi, besok akan kita bangunkan tenda dulu yang lebih besar lalu selanjutnya akan dibuat gereja sementara,” ujar Suharyanto.

“Hal ini juga berlaku untuk tempat ibadah masjid, tadi kita melakukan shalat jumat di Masjid, nah perlakuannya pun akan sama kita bangun masjid sementara.”

Yansen warga Desa Kamamora b, Kecamatan Nokilalaki mengungkapkan rasa terima kasih saat Kepala BNPB menyempatkan berdialog saat mengunjungi rumah yang terdampak gempa.

“Alhamdulillah, saya bersyukur pak ada tenda BNPB, kalo kemarin ada angin masuk dingin sampai ke dalam, sekarang sudah lebih nyaman,” kata Yansen.

Exit mobile version