Informasi tersebut dapat menjadi dasar dalam penilaian risiko lingkungan sekaligus menentukan langkah pemulihan yang paling efektif.
Untuk menghasilkan analisis yang dapat diandalkan, kualitas hasil pemodelan harus ditopang oleh data lapangan yang akurat, hasil pengujian laboratorium terakreditasi, serta prosedur pengambilan sampel yang memenuhi standar ilmiah.
Integrasi berbagai sumber data tersebut, kata Widodo, diperlukan untuk menghasilkan kajian yang kredibel dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Ketika data observasi lapangan, hasil laboratorium, dan pemodelan dapat diintegrasikan dengan baik, maka kita dapat memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai dampak pencemaran maupun kerusakan lingkungan,” ujar Widodo seperti dikutip dari Brin.go.id.
Hal ini sangat membantu dalam proses verifikasi, penghitungan kerugian lingkungan, dan penentuan strategi pemulihan.
Widodo juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara peneliti, pemerintah daerah, pengawas lingkungan hidup, dan laboratorium dalam mendukung penyelesaian sengketa lingkungan hidup.
Di samping itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam memahami data dan menginterpretasi hasil kajian dinilai penting agar penanganan kasus di lapangan dapat berlangsung lebih efektif dan tepat sasaran.




