Penanganan Paus Terdampar Perlu Partisipasi Masyarakat

Paus Pilot yang terdampar di Pantai Madura, Kamis (18/2). FOTO: KLHK

Darilaut – Pencegahan maupun penanganan paus terdampar memerlukan partisipasi dan sinergi semua pihak, tak terkecuali masyarakat pesisir.

Menurut Dosen Hidrobiologi Laut, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Adriani Sunnudin, ketika ada masyarakat yang melihat aktivitas tidak biasa dari mamalia laut, harus mulai dicermati. Apakah butuh istirahat saat ruaya atau serangan predator, seharusnya ada kewaspadaan mengenai peluang terdampar.

Hanya saja, kesaksian masyarakat tersebut tidak menjadi kesadaran bersama untuk bisa dilakukan pencegahan.

“Penyebarluasan informasi dari masyarakat tersebut sebenarnya bisa diteruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan di daerah, atau UPT Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sebenarnya sudah memiliki tim tanggap,” kata Adriani dalam kegiatan Ocean Voice, Minggu (21/2) seperti dikutip dari Ipb.ac.id.

Menurut Adriani, sebagai negara maritim, Indonesia sudah memiliki pedoman untuk mengatasi dan menangani peristiwa terdamparnya mamalia laut. Tim respon cepat sudah tersedia namun pada dasarnya kita masih butuh ada peningkatan kapasitas penyebarluasan informasi untuk konservasi mamalia laut.

Pelatihan tanggap darurat evakuasi dan penanganan keterdamparan mamalia laut pun sudah dilakukan oleh para ahli. Namun, partisipatif masyarakat pesisir sangat diharapkan.

Idealnya, kata Adriani, pada saat penanganan mamalia laut terdampar, yang dibutuhkan adalah clearing area dari kegiatan manusia untuk menekan stres mamalia laut.

Karakteristik individu dari kelompok paus kemudian dilakukan oleh para ahli untuk menentukan pimpinan kelompok dan menjadi penanganan utama. “Kemudian kita deteksi mana individu paus yang bisa dilepasliarkan, mana yang butuh untuk direhabilitasi untuk penanganan medis,” kata Adriani.

Penanganan paus terdampar yang mati dengan dikubur sudah tepat. Jika bangkai dibiarkan dan membusuk akan mengeluarkan bakteri dan parasit. Hal ini justru lebih membahayakan. Namun untuk menguburkan tidak mudah karena berat.

Peristiwa terdamparnya puluhan ekor paus pilot maupun mamalia laut lainnya di pesisir pantai Indonesia bukan hanya 1-2 kasus saja. Data dari World Wide Fund for Nature (WWF), dalam periode 2015-2019 terdapat 304 kasus mamalia laut terdampar di pantai Indonesia.

Beberapa hari sebelum terjadinya paus terdampar, masyarakat pesisir sebenarnya sudah mengetahui adanya aktivitas yang tidak biasa dari mamalia laut tersebut.

Misalnya peristiwa puluhan paus pilot yang terdampar di Selat Madura. Ada laporan masyarakat yang melihat rombongan paus pilot berada di perairan selatan Madura, tepat satu hari sebelum terdampar. Hal ini serupa dengan kejadian terdamparnya paus pilot pada Juni 2016.

Untuk mencegah kejadian serupa, memerlukan partisipasi semua pihak terutama generasi milenial yang sanggup mencerna dengan baik informasi yang sahih dan menyebarluaskannya kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan kesadar lingkungan pesisir.

Upaya ini harus cepat dan tanggap dilakukan segera oleh semua pihak karena meskipun paus pilot belum termasuk terancam punah, tetapi dengan peristiwa terdampar yang cukup sering, pada akhirnya akan mengurangi populasi jenis paus ini.

Adriani mengatakan paus pilot sempat mengalami status konservasi menjadi least concern yaitu tidak dianggap butuh intervensi langkah konservasi khusus. Hal ini karena mampu beruaya dalam kelompok besar dan informasi populasinya belum diketahui lengkap untuk wilayah yang sudah diketahui sebarannya.

Exit mobile version