Darilaut – Kebutaan dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, salah satunya adalah katarak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes melitus memiliki risiko lima kali lebih tinggi terkena katarak.
Katarak, yaitu kondisi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal ke retina. Katarak terjadi karena kelainan pada lensa kristalin yang ditandai dengan menurunnya transparansi dan meningkatnya kekeruhan lensa.
Ketika seseorang kehilangan kemampuan melihat dengan baik, bukan hanya aktivitas sehari-hari yang terganggu, tetapi juga aspek sosial, ekonomi, dan psikologis kehidupan.
Katarak sering dianggap sebagai penyakit yang identik dengan proses penuaan. Memang benar bahwa usia merupakan salah satu faktor risiko utama. Namun, perkembangan katarak juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi kesehatan lainnya, salah satunya adalah diabetes melitus (DM).
Penelitian di Gorontalo menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perkembangan katarak. Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) masing-masing Putri Sally Ufairah, Naning Suleman, Sitti Rahma, Cecy Rahma Karim, dan Muh. Nur Syukriani Yusuf.
Hasil penelitian ini telah dipublikasi di Jambura Axon Journal, Vol.2 No.1 Januari 2025, dengan judul “Hubungan DM Tipe 2 dengan Katarak pada Pasien Rawat Jalan di RSUD Aloei Saboe.”
Penelitian tersebut melibatkan 40 pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan di poliklinik penyakit dalam dan poliklinik mata. Berdasarkan data penelitian, 20 pasien (50%) terdiagnosis diabetes melitus tipe 2, sementara 19 pasien (47,5%) mengalami katarak.
Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut. Nilai p-value sebesar 0,027 menunjukkan bahwa hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak tidak terjadi secara kebetulan.
Penelitian menemukan nilai Odds Ratio sebesar 4,333, yang berarti bahwa pasien dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko sekitar 4,3 kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita diabetes.
Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perkembangan katarak.
Selain diabetes, beberapa faktor lain juga dapat mempercepat terjadinya katarak. Usia merupakan faktor risiko yang paling dominan. Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk melindungi jaringan mata dari kerusakan oksidatif akan menurun. Akibatnya, protein pada lensa mata lebih mudah mengalami kerusakan.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas penderita katarak berusia di atas 60 tahun. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa risiko katarak meningkat seiring bertambahnya usia.
Selain faktor usia, gaya hidup juga berperan penting. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, serta pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata.
Bahkan faktor pendidikan dan sosial ekonomi juga dapat memengaruhi risiko katarak. Individu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki akses informasi kesehatan yang lebih terbatas serta pola makan yang kurang seimbang, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk katarak.
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi metabolisme tubuh, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada organ-organ penting, termasuk mata.
Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan penglihatan. Bahkan beberapa studi internasional memperkirakan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hingga lima kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes.
Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi struktur dan fungsi lensa mata. Ketika glukosa dalam darah meningkat, tubuh akan mengubah sebagian glukosa tersebut menjadi sorbitol melalui jalur metabolik tertentu.
Penumpukan sorbitol di dalam sel-sel lensa mata menyebabkan perubahan keseimbangan cairan yang membuat lensa menjadi bengkak dan keruh. Selain itu, diabetes juga dapat meningkatkan stres oksidatif, yaitu kondisi ketika jumlah radikal bebas dalam tubuh meningkat dan merusak berbagai jaringan tubuh, termasuk protein pada lensa mata. Kerusakan protein ini menyebabkan lensa kehilangan kejernihannya dan memicu terbentuknya katarak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 2,2 miliar orang di dunia mengalami gangguan penglihatan atau kebutaan, dan katarak merupakan salah satu penyebab utama dari kondisi tersebut. Bahkan pada kelompok usia di atas 50 tahun, katarak menjadi penyebab utama jutaan kasus kebutaan secara global.
