Selain faktor usia, gaya hidup juga berperan penting. Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, serta pola makan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko kerusakan pada lensa mata.
Bahkan faktor pendidikan dan sosial ekonomi juga dapat memengaruhi risiko katarak. Individu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki akses informasi kesehatan yang lebih terbatas serta pola makan yang kurang seimbang, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk katarak.
Diabetes melitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau kerja hormon insulin. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi metabolisme tubuh, tetapi juga dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada organ-organ penting, termasuk mata.
Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami gangguan penglihatan. Bahkan beberapa studi internasional memperkirakan bahwa penderita diabetes memiliki risiko hingga lima kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes.
Hal ini terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi struktur dan fungsi lensa mata. Ketika glukosa dalam darah meningkat, tubuh akan mengubah sebagian glukosa tersebut menjadi sorbitol melalui jalur metabolik tertentu.




