Ketika sekolah dan fasilitas sanitasi rusak, dan keluarga-keluarga terpaksa mengungsi dan kehilangan pendapatan, anak perempuan cenderung diberi tanggung jawab tambahan dalam mengasuh anak dan mengumpulkan air.
Tekanan-tekanan ini juga dapat meningkatkan risiko dipaksa melakukan pernikahan anak, sehingga sangat sulit bagi anak perempuan untuk kembali bersekolah setelah sekolah dibuka kembali.
Konsekuensi Jangka Panjang
“Bagi jutaan anak, bahaya iklim tidak hanya mengganggu pembelajaran, namun juga menghancurkan sekolah, membuat keluarga tercerabut dari keluarga, dan mendorong anak-anak yang paling rentan, terutama anak perempuan, keluar dari ruang kelas untuk selamanya,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell.
Jika tidak ada tindakan yang jelas untuk membantu mereka, siswa yang mengalami gangguan sekolah akibat perubahan iklim pada tahun 2025 secara kumulatif dapat kehilangan setidaknya $200 miliar pendapatan seumur hidup, menurut laporan tersebut.
Pada skala makro, hilangnya pembelajaran dan tingginya angka putus sekolah dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan mempersulit negara-negara untuk mengentaskan kemiskinan.
UNICEF kini menyerukan kepada pemerintah di seluruh dunia untuk berinvestasi lebih besar dalam sistem dan infrastruktur pendidikan yang berketahanan iklim “untuk melindungi pendidikan bagi anak-anak saat ini dan generasi mendatang,” ujar Russell.




