Berdasarkan hasil pemodelan tersebut, tim menentukan titik-titik stasiun pengambilan sampel air, sedimen, bentos, pengukuran arus, hingga lokasi penyelaman. Sehingga, proses verifikasi lapangan dapat berlangsung lebih efektif dan tepat sasaran.
Verifikasi dilakukan dengan memanfaatkan pemodelan hidrodinamika untuk memprediksi arah dan luas sebaran serpihan batu bara berdasarkan kondisi arus, pasang surut, gelombang, angin, serta batimetri perairan.
”Hasil prediksi ini menjadi dasar penentuan titik-titik sampling. Sehingga, survei lapangan dapat dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran,” kata Widodo, seperti dikutip dari Brin.go.id Selasa, (4/8).
Hasil analisis tersebut dipaparkan Widodo kepada seluruh anggota tim verifikasi lapangan di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara sebelum tim turun ke lapangan. Paparan tersebut menjadi acuan bagi tim pengambilan sampel air, sedimen, dan bentos, tim penyelaman, tim pengukuran oseanografi, tim susur pantai, hingga tim sosial ekonomi dalam menyusun strategi pengumpulan data di lapangan.
Selain memodelkan sebaran material batu bara, tim juga mengkaji karakteristik oseanografi dan geomorfologi lokasi kandasnya tongkang. Berdasarkan peta e-navigasi Pushidrosal TNI AL, lokasi kejadian berada di kawasan perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 1,5–2 meter, disertai keberadaan gosong, batu (stone), dan substrat lumpur (mud) yang berpotensi memengaruhi dinamika perairan sekaligus menjadi perhatian bagi keselamatan pelayaran.



