Darilaut – Ahli kependudukan dan ekologi manusia dari Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gusti Ayu Ketut Surtiari, mengatakan, kajian riset Covid-19 di bidang Sosial berawal dari kesimpang-siuran berita mengenai Covid-19.
“Kemudian, timbul pertanyaan, sebagai peneliti sosial apa yang bisa kita sumbangkan untuk memberikan sebuah pemahaman yang baik kepada masyarakat. Apa iya kita memang kebal virus ini?” kata Ayu melalui program virtual NGAPEL (Ngobrol Bareng Peneliti), Jumat (8/5).
Program ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal instagram @pirnlipi.
Kaji cepat LIPI bidang sosial terkait Covid-19 dilakukan Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI. Melalui grup panel sosial yang terdiri dari peneliti-peneliti sosial di bidang kebencanaan, tim peneliti LIPI selanjutnya bergerak cepat.
“Dalam kondisi pandemi saat ini penelitian banyak dilakukan secara online dan wawancara informan. Pendekatan atau metode yang digunakan kombinasi kualitatif dan kuantitatif,” ujar Ayu seperti dikutip dari Lipi.go.id.
Menurut Ayu, dalam sebuah penelitian tidak terlepas dari risiko kegagalan. Tapi kita harus menyebutkan dengan jujur hasilnya. Kemudian coba dilengkapi dengan informasi tambahan dan keterbatasan metode yang digunakan.
Ayu mengatakan, menjadi peneliti ilmu sosial itu menyenangkan. Generasi muda tidak boleh bosan untuk banyak membaca karena itu akan memberikan netralitas dalam berpikir.
Untuk melihat suatu masalah itu harus netral, tidak ada keberpihakan baik untuk kita pribadi atau untuk kelompok tertentu, lalu penasaran. “Curiosity harus dikembangkan, dan selalu mencoba mencari referensi sebanyak- banyaknya untuk suatu fenomena, lalu jangan lupa aktif berkolaborasi,” katanya.
Ngapel merupakan sebuah program acara pembinaan ilmiah masyarakat. Program yang diselenggarakan secara virtual ini menyasar publik di kalangan remaja dan akademisi.*
