Darilaut – Sejumlah peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menemukan sebanyak 12 jenis ikan ekonomis penting di Teluk Tomini telah terkontaminasi mikroplastik.
Penelitian terbaru dipublikasi di Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries, edisi Januari 2026, berlokasi di Torosiaje, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.
Penelitian ini berlangsung dari Juni hingga Agustus 2025 di tiga lokasi masing-masing Torosiaje Mainland (TM), Torosiaje Island (TI), dan Torosiaje Settlement (TS). Sebanyak 12 jenis ikan diteliti dari 15 sampel yang dikumpulkan dari tiga lokasi.
Puluhan jenis ikan yang diteliti tersebut masing-masing: Mugil cephalus, Lutzanus ehrenbergii, Craterognathus plagiotaenia (Sinonim: Carangoides plagiotaenia, Red), Epinephelus faveatus, Scolopsis sp., Scarus cf.globiceps, Lethrinus sp, Lutjanus Lutjanus, Parupeneus barberinus, Lethrinus rubrioperculatus, Siganus guttatus, dan Caesio cuning.
Penelitian tersebut mengungkap bahwa ikan ekonomis yang diteliti telah terkontaminasi mikroplastik. Partikel plastik berukuran mikro tersebut berpotensi membahayakan ekosistem laut dan kesehatan manusia.
Sampel ikan dikumpul dari lokasi yang dibedakan berdasarkan fungsi utamanya: TM mencakup area pemukiman darat utama; TI mewakili Pulau Didiki; dan TS berfungsi sebagai area tambatan perahu utama dan gerbang menuju daratan.
Sebanyak 15 sampel ikan diperoleh dari hasil tangkapan lokal di Teluk Tomini. Individu representatif (N=15) dipilih berdasarkan spesies dominan yang tertangkap di setiap lokasi pengambilan sampel, memastikan panjang tubuh, berat badan, dan ukuran bukaan mulut yang relatif seragam.
Analisis akhir mencakup lima individu per lokasi untuk membandingkan kelimpahan mikroplastik di ketiga area penelitian. Uji homogenitas mengkonfirmasi bahwa sampel data berasal dari populasi dengan varians yang sama.
Sampel ditempatkan dalam kotak pendingin dengan es batu dan diberi label untuk diangkut ke laboratorium. Setelah tiba, ikan disimpan dalam freezer pada suhu −20°C hingga analisis lebih lanjut.
Prosedur pemeriksaan mikroplastik untuk ikan dengan melakukan pencatatan berat total dan panjang setiap sampel sebelum saluran pencernaan (GIT) dibedah, dipisahkan, dan ditimbang menggunakan timbangan analitik.
Jaringan otot dan saluran pencernaan menggunakan larutan kalium hidroksida (KOH) dan hidrogen peroksida (H₂O₂), diikuti dengan penyaringan dan analisis mikroskopis untuk menentukan ukuran, bentuk, dan warna mikroplastik.
Data diproses dan divisualisasikan menggunakan Tableau. Hasilnya menunjukkan bahwa semua sampel ikan terkontaminasi mikroplastik. Lokasi Daratan Torosiaje (TM) menunjukkan kontaminasi tertinggi, dengan mencatat rata-rata kelimpahan 59,4±20,43 partikel per individu ikan, khususnya pada spesies Craterognathus plagiotaenia (86 partikel/individu), Lutjanus ehrenbergii (72 partikel/individu), dan Mugil cephalus (59 partikel/individu).
Area TI 39.4 ± 6.66 partikel per individu, serta kelimpahan terendah tercatat di TS 32.6 ± 12.66 partikel/individu).
Hasil riset ini dilakukan oleh Syam S. Kumaji, Dewi Wahyuni K. Baderan, Hasim, Zuliyanto Zakaria, Djuna Lamondo, dan Femy Mahmud Sahami.
Temuan lebih lanjut mengungkapkan dominasi signifikan partikel berwarna biru, yang mencakup 83,0% (524 unit) dari total temuan, diikuti oleh varietas transparan (9,2%) dan hitam (3,0%).
Sebagian besar adalah serat biru yang kemungkinan berasal dari alat tangkap ikan dan cucian rumah tangga.
Para peneliti menilai, dominasi serat biru ini kuat kaitannya dengan aktivitas manusia, terutama penggunaan jaring dan tali nilon alat tangkap ikan, serta serat sintetis dari pakaian rumah tangga yang terlepas saat proses pencucian dan langsung masuk ke perairan.
Selain itu, ukuran mikroplastik yang paling banyak ditemukan berada pada rentang 1.000–5.000 mikrometer, menandakan bahwa partikel tersebut merupakan hasil pecahan plastik berukuran besar yang terdegradasi di laut, bukan mikroplastik primer seperti butiran kosmetik.
Keberadaan mikroplastik dalam ikan menjadi persoalan serius. Selain berisiko bagi kesehatan manusia, mikroplastik juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem laut dan ketahanan pangan komunitas pesisir yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut.
Tim peneliti menekankan pentingnya pengelolaan sampah pesisir berbasis komunitas, khususnya di kawasan rumah panggung di atas laut. Upaya lain yang dinilai mendesak adalah pengurangan penggunaan bahan sintetis, peningkatan kesadaran lingkungan, serta pemantauan rutin mikroplastik pada biota laut.
Penelitian ini menjadi data awal penting dalam memahami pencemaran mikroplastik di Teluk Tomini sekaligus menjadi dasar penyusunan kebijakan perlindungan lingkungan laut yang lebih berkelanjutan.
