Darilaut – Plastik yang terbuang di daratan masuk ke badang sungai dan terbawa hingga ke laut dapat terdegradasi menjadi mikroplastik. Mikroplastik yang berukuran kurang dari lima milimeter itu tidak hanya berhenti di lingkungan perairan.
Plastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik terbawa ke sungai, dibuang dipinggir pantai dan laut, kemudian dimakan plankton, terakumulasi pada ikan dan biota laut lainnya.
Mikroplastik ini masuk ke dalam rantai makanan, hingga akhirnya berpotensi masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi pangan laut.
“Inilah yang menjadi latar belakang riset kami, yaitu melihat bagaimana mikroplastik terakumulasi dan berpindah di dalam tubuh biota,” kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Heny Suseno, seperti dikutip dari Brin.go.id.
BRIN melakukan kajian mikroplastik dari sisi biota laut dan potensi risikonya bagi manusia. Perspektif ini dikaji melalui pemanfaatan teknologi nuklir sebagai alat perunut mikroplastik di dalam organisme hidup.
Heny dan tim mengembangkan pendekatan nuklir dengan melabeli mikroplastik menggunakan radioisotop iodium-131 (I-131).
Mikroplastik berlabel ini kemudian dimasukkan ke dalam media air laut bersama biota hidup, seperti ikan bandeng atau kerang. Pergerakan dan akumulasi mikroplastik di dalam tubuh organisme dipantau secara berkala menggunakan spektrometer gamma, tanpa harus mematikan hewan uji.




