Hasil analisis menunjukkan lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.
“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” kata Corry.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman. Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.
Temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik.
Di kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air, kata Corry.
Para peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan mikroplastik di dalam kolom air di sepanjang jalur Arlindo. Nilai konsentrasi mikroplastik yang didokumentasikan dalam penelitian ini lebih besar daripada perkiraan konsentrasi di bawah permukaan di laut lepas.
Bentuk utama yang diidentifikasi dalam riset ini adalah serat, mencakup 91% dari total. Analisis mikroplastik yang terkonfirmasi mengungkapkan bahwa jenis polimer yang dominan adalah PVEMA (Polymethyl vinyl ether-co-maleic acid) 43% dan PEST (Polyester) 22%.




