Darilaut – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi dengan peneliti internasional menemukan mikroplastik sudah ada di kedalaman lebih dari dua kilometer di perairan Indonesia. Lokasi pengambilan sampel berada di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.
Temuan mikroplastik di kedalaman sekitar 2.450 meter itu berada di jalur utama Arus Lintas Indonesia (Indonesian Throughflow/ITF). Partikel tersebut berpotensi masuk ke rantai makanan laut hingga akhirnya dikonsumsi manusia.
Temuan tersebut telah dipublikasi dalam jurnal ilmiah internasional, Marine Pollution Bulletin, dengan judul “Vertical Distribution of Microplastic Along the Main Gate of Indonesian Throughflow Pathways” (2024).
Riset ini ditulis oleh peneliti ahli madya Pusat Riset Laut Dalam, BRIN, Corry Yanti Manullang, bersama tim kolaborasi internasional dari Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat dan Cina.
Arus Lintas Indonesia yang juga dikenal sebagai Arlindo merupakan sistem arus laut strategis yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia melalui perairan Indonesia. Arus ini mengalir melalui sejumlah selat penting, seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
Corry mengatakan Arlindo menghubungkan dua samudra besar, Pasifik dan Hindia. Selain membawa massa air, garam, dan nutrien, arus ini juga berpotensi membawa partikel kecil seperti mikroplastik.
Selama ini, penelitian tentang Arlindo lebih banyak berfokus pada aspek fisik laut seperti suhu, salinitas, dan sirkulasi arus. Namun, distribusi mikroplastik di kolom air, terutama hingga laut dalam, masih jarang dikaji.
Penelitian ini menjadi salah satu studi awal yang mengkaji distribusi vertikal mikroplastik hingga laut dalam di jalur Arlindo.
”Sebagian besar penelitian mikroplastik di perairan Indonesia masih berfokus pada lapisan permukaan atau wilayah pesisir,” ujar Kamis (5/3), seperti dikutip dari Brin.go.id.
Penelitian dilakukan melalui ekspedisi oseanografi pada Januari hingga April 2021 dalam program kolaborasi internasional TRIUMPH. Pengambilan sampel dilakukan di 11 stasiun pengamatan dari Selat Makassar hingga Selat Lombok.
Tim peneliti mengambil 92 sampel kolom air pada berbagai kedalaman, mulai dari 5 meter hingga sekitar 2.450 meter.
Pengambilan sampel dilakukan menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD (Conductivity, Temperature, Depth), sehingga peneliti dapat mengambil air secara spesifik pada kedalaman tertentu.
Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter, kata Corry.
Dari total 872 liter air laut yang dianalisis, peneliti menemukan 924 partikel mikroplastik. Rata-rata konsentrasinya sekitar 1,062 partikel per liter. Mikroplastik ditemukan di seluruh stasiun penelitian, termasuk pada kedalaman lebih dari dua kilometer di bawah permukaan laut.
Hasil analisis menunjukkan lebih dari 90 persen mikroplastik yang ditemukan berbentuk serat (fiber). Jenis partikel ini umumnya berasal dari bahan tekstil sintetis.
“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” kata Corry.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengidentifikasi beberapa jenis polimer plastik menggunakan analisis spektroskopi Raman. Beberapa di antaranya adalah polyester, polypropylene dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.
Temuan ini menunjukkan bahwa laut dalam berpotensi menjadi lokasi akumulasi mikroplastik.
Di kedalaman tertentu, arus Arlindo cukup kuat sehingga partikel plastik bisa terbawa ke berbagai lapisan air, kata Corry.
Para peneliti menyimpulkan bahwa keberadaan mikroplastik di dalam kolom air di sepanjang jalur Arlindo. Nilai konsentrasi mikroplastik yang didokumentasikan dalam penelitian ini lebih besar daripada perkiraan konsentrasi di bawah permukaan di laut lepas.
Bentuk utama yang diidentifikasi dalam riset ini adalah serat, mencakup 91% dari total. Analisis mikroplastik yang terkonfirmasi mengungkapkan bahwa jenis polimer yang dominan adalah PVEMA (Polymethyl vinyl ether-co-maleic acid) 43% dan PEST (Polyester) 22%.
Analisis statistik menunjukkan bahwa suhu dan kepadatan memiliki dampak signifikan pada jumlah mikroplastik yang ada di kolom air jalur Arlindo.
Data kami menunjukkan bahwa transportasi laut dari Samudra Pasifik menyebabkan akumulasi mikroplastik yang berkelanjutan di jalur utama ITF, tulis peneliti.
