Darilaut – Tantangan pengelolaan air semakin kompleks, untuk itu, pendekatan ekohidrologi menawarkan cara pandang yang lebih menyeluruh.
Ketergantungan pada pendekatan infrastruktur fisik semata tidak selalu mampu menjawab persoalan kekeringan, banjir, penurunan kualitas air, dan perubahan iklim.
Deforestasi, misalnya, dapat mengurangi kawasan resapan air, sementara kerusakan lahan basah dapat menghilangkan kemampuan alami ekosistem dalam menahan air. Pada saat yang sama, perubahan iklim turut menggeser kondisi hidrologis dan meningkatkan ancaman kejadian ekstrem.
Hal ini disampaikan guru besar hidrologi IPB University Prof. Dr. Muh. Taufik, yang membawakan materi “Ekohidrologi untuk Ketahanan Air dan Lingkungan Berkelanjutan,” di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Kamis (27/8).
Fakultas MIPA UNG mengawali perkuliahan dengan mengangkat isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni ketahanan air dan keberlanjutan lingkungan melalui kuliah umum. Kegiatan ini dilaksanakan di aula Fakultas MIPA tersebut dihadiri mahasiswa sebagai bagian dari rangkaian pembukaan perkuliahan tahun akademik 2026/2027.
Prof. Taufik menjelaskan bahwa ekohidrologi merupakan pendekatan integratif yang melihat hubungan timbal balik antara siklus hidrologi dan proses biologis. Air tidak berdiri sendiri sebagai sumber daya, tetapi merupakan bagian dari sistem ekologi yang saling terhubung.




