Kondisi vegetasi, tanah, kawasan hutan, lahan basah, dan aktivitas manusia akan memengaruhi bagaimana air tersimpan, mengalir, meresap, dan kembali tersedia bagi kehidupan, kata Prof. Taufik.
Prof. Taufik yang juga guru besar Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, mengatakan, ekohidrologi menawarkan cara pandang yang lebih menyeluruh. Pengelolaan vegetasi dan ekosistem dapat meningkatkan kawasan recharge, mengurangi debit puncak, dan membantu mempertahankan aliran dasar (baseflow) ketika musim kemarau.
Lahan basah dan kawasan riparian juga memiliki fungsi penting dalam membantu menyaring limpasan, nutrien, maupun sejumlah pencemar sebelum masuk ke badan air, kata Prof. Taufik, S3 Hidrologi dari Wageningen University and Research, Netherlands.
Prof. Taufik memperkenalkan konsep green infrastructure dan grey infrastructure serta pentingnya mengintegrasikan keduanya. Pendekatan ekohidrologi memanfaatkan fungsi alami vegetasi, tanah, dan organisme untuk membantu mengatur air, sementara infrastruktur konvensional tetap dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Integrasi keduanya diharapkan menghasilkan sistem pengelolaan air yang lebih adaptif, efisien, dan memiliki manfaat ekologis yang lebih luas.
Kegiatan ini secara resmi oleh Dekan Fakultas MIPA UNG, Prof. Dr. Fitryane Lihawa, yang menegaskan pentingnya tema tersebut di tengah berbagai persoalan lingkungan yang saat ini dihadapi masyarakat Gorontalo.




