Kegiatan diskusi ini kerja sama Pusat Riset Politik BRIN dengan The Near East South Asia (NESA) dan Daniel Ken Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies (DKI APCSS),
Amarulla menyampaikan BRIN juga telah meriset mengenai kemaritiman yang dipublikasikan dalam bentuk buku terbitan Springer berjudul ASEAN Maritime Security: The Global Maritime Fulcrum in the Indo-Pacific.
Selain itu, periset BRIN juga bekerja sama dengan Kementerian Koordinasi Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Badan Keamanan Laut (Bakamla), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Sekretariat ASEAN, dan lain-lain.
“Kami terbuka untuk berkolaborasi dan bekerja sama dalam diskusi keamanan maritim,” ujarnya.
Kepala Organisasi Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, Ahmad Najib Burhani, mengatakan, perlunya organisasi dapat bekerja sama menjaga keamanan dan kolaborasi dalam mengembangkan kelautan dan kemaritiman, baik sipil maupun militer di Asia Selatan maupun Samudera Pasifik.
Hal ini, menurut Najib, bertujuan agar upaya kerja sama keamanan laut bisa lebih efektif dengan lembaga-lembaga yang berfokus pada keamanan maritim dapat didirikan.
Tujuannya bagaimana komunikasi dapat dibagi, tantangan-tantangan yang ada dapat diatasi dengan lebih baik di kawasan ini, dan bagaimana upaya maritim yang terkoordinasi dapat mengatasi hal tersebut untuk mencegah tindakan provokatif di laut, kata Najib.




