Kemiringan lahan yang cukup tinggi di wilayah ini menyebabkan risiko erosi tanah yang signifikan. Selain itu, pola pertanian monokultur yang diterapkan hampir seluruh penduduk desa selama tiga dekade ini menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekologi.
Hal ini semakin penting mengingat Desa Ilomata berperan sebagai salah satu desa penyangga kawasan konservasi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.
“Saya tidak lagi menanam jagung salah satunya untuk mencegah tidak terjadi erosi, dan bukan hanya saya yang sudah bikin teras. Sudah banyak warga yang menanam dengan metode tumpangsari,” ujar Rahman.
Sementara itu, Direktur Japesda, Nurain Palopo mengungkapkan di Desa Ilomata, program pertanian cerdas iklim yang dijalankan Japesda menjadi langkah nyata untuk menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendorong kemandirian petani. Salah satu pendekatannya adalah agroforestri.
“Ini memang komitmen Japesda dalam menjaga keberlangsungan ekologi, sekaligus mendorong petani agar tidak lagi menanam tanaman monokultur seperti jagung. Japesda hadir di tengah-tengah masyarakat untuk berbagi pengetahuan,” kata Nurain.
Nurain melanjutkan dalam menjaga keberlangsungan ekosistem harus ada pembaruan dalam metode pertanian. Pertanian agroforestri bertujuan menyeimbangkan berbagai kebutuhan: memproduksi kayu dan komoditas lainnya, menyediakan makanan bergizi yang cukup dan beragam, serta melindungi lingkungan agar sumber daya dan jasa ekosistem tetap tersedia bagi generasi sekarang dan yang akan datang.




