”Namun masih banyak yang harus dilakukan. Kita harus terus berinvestasi dalam ilmu pengetahuan, terus mendidik, mengingatkan, dan meningkatkan kesadaran. Mobilisasi maksimal adalah satu-satunya alternatif kita untuk menyelamatkan laut.”
Inisiatif Baru
Pada konferensi tersebut, UNESCO dan 13 kota mengumumkan pembentukan platform “Kota dengan Samudera”, sebuah aliansi baru antara Organisasi tersebut dengan kota-kota pesisir dan pelabuhan, melengkapi pekerjaan yang sudah berjalan antara UNESCO dan 194 Negara Anggotanya.
Dengan 75% kota-kota besar di dunia terletak di sepanjang pantai, penduduknya termasuk yang paling terkena dampak bencana laut yang disebabkan oleh alam dan manusia – termasuk tsunami, polusi laut, dan dampak gangguan iklim.
Namun mereka juga merupakan pihak yang pertama kali merespons dan tempat terbaik untuk menerapkan keputusan di tingkat lokal untuk menangani permasalahan ini.
UNESCO akan mendukung kota-kota ini dengan mengembangkan program yang sesuai dengan kebutuhan, seperti meningkatkan “Program Siap Tsunami UNESCO”, melatih perencana kota untuk mengantisipasi risiko erosi pantai, atau mengumpulkan data ilmiah penting untuk alat yang dikembangkan oleh UNESCO seperti Global Ocean Observing System.
Simposium kota pesisir internasional pertama akan mempertemukan jaringan ini di Qingdao, salah satu kota pesisir terbesar di Tiongkok, tahun depan. Inisiatif ini juga akan disoroti di Nice, sebagai bagian dari diskusi di Konferensi Kelautan PBB, pada bulan Juni 2025.




