Perubahan iklim Dapat Menyebabkan Kualitas dan Produktivitas Cabai Menurun

Tanaman cabai. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Perubahan iklim dapat menyebabkan kualitas dan produktivitas cabai menurun, padahal komoditas ini dapat mempengaruhi tingkat inflasi.

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari, mengatakan, fluktuasi produksi cabai setiap musim menyebabkan kenaikan harga cabai cukup signifikan sehingga mempengaruhi tingkat inflasi.

Pada musim hujan produksi cabai biasanya selalu rendah karena sebagian besar sawah ditanami padi dan di lahan kering banyak petani yang enggan menanam cabai karena risiko gagal panen tinggi,” kata Puji.

Belum lagi adanya dampak perubahan iklim global. Hal ini, menurut Puji, menyebabkan menurunnya kualitas dan produktivitas cabai dan berkembangnya populasi organisme pengganggu tanaman perlu untuk secara terus menerus diantisipasi.

Karena itu, kata Puji, penelitian yang mengarah pada peningkatan produktivitas, kualitas cabai dan pengelolaan terhadap organisme pengganggu tanaman secara berkesinambungan perlu terus dilakukan.

Hal ini disampaikan dalam acara yang digelar Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan (PRHP) BRIN, dengan tema “Teknologi Menjawab Tantangan dan Permasalahan Cabai Nasional” Senin (17/7) secara virtual.

Cabai merupakan komoditas sayuran komersial yang penting di dunia, bernilai ekonomi tinggi dan memberi banyak peluang keuntungan dari penjualan cabai segar, produk olahan hingga cabai keringnya.

Dalam perdagangan cabai secara global, tercatat 118 negara menjadi importir cabai dan 34 negara menjadi eksportir cabai.

Puji mengatakan terobosan inovasi teknologi baru pada cabai dapat difokuskan pada penggunaan benih unggul varietas lokal. Ini dapat dilakukan melalui penggalian potensi varietas cabai lokal yang telah terdaftar serta mendorong pendaftaran varietas lokal yang belum terdaftar serta perakitan varietas unggul.

Selain itu, teknologi pemupukan secara lengkap dan berimbang, penggunaan pupuk organik terstandarisasi dan penggunaan kapur sebagai unsur pembenah tanah, teknologi pengendalian hama dan penyakit secara terpadu serta penanganan pasca panen.

Kepala Pusat Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN, Dwinita Wikan Utami, mengatakan, permasalahan cabai nasional menuntut adanya inovasi teknologi yang terus-menerus dikembangkan di antara beberapa teknologi untuk peningkatan daya saing dan peningkatan produksi cabai secara nasional.

Menurut peneliti ahli utama BRIN, Budi Winarto, teknologi haploid adalah teknologi kultur jaringan yang dieksplorasi, dimanfaatkan, digunakan untuk menghasilkan satu atau beberapa hasil generasi gamet jantan atau betina untuk menghasilkan tanaman haploid dan/atau haploid ganda yang disebut juga dengan galur murni.

Teknologi ini dapat mendukung pemuliaan, mutasi, transformasi genetik, pemetaan genetik, genomik dan perbenihan. Teknologi ini dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro.

Peneliti ahli madya, Rinda Kirana, mengatakan, selama 17 tahun melaksanakan tugas di Kementerian Pertanian telah ikut berkontribusi pada pendaftaran 17 varietas cabai Kementan. Terdiri dari 13 varietas cabai besar, dua varietas cabai keriting dan dua varietas cabai rawit.

Menurut peneliti ahli madya Rini Rosliani, ada lima kunci untuk menghasilkan cabai optimal yang dikemas dalam satu teknologi produksi lipat ganda cabai yaitu varietas unggul, persemaian sehat, kepadatan populasi, pengelolaan hara dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Permasalahan cabai nasional lebih disebabkan oleh adanya serangan organisme pengganggu tanaman terutama pada masa produksi cabai pada bulan-bulan hujan, serangan sangat tinggi, sehingga produksi sangat menurun dan penggunaan pestisida yang berlebih, kata peneliti ahli madya lainnya, Bagus Kukuh Udiarto yang membawakan materi “Pengelolaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Ramah Lingkungan untuk Menjawab Permasalahan Cabai Nasional.”

Exit mobile version