Petisi untuk Mengakhiri Perburuan Paus dan Lumba-lumba di Kepulauan Faroe

Bangkai lumba-lumba Atlantik (Atlantic White-Sided Dolphins) yang tergeletak di pantai Pulau Eysturoy setelah dibantai warga Kepulauan Faroe. Lumba-lumba ini bagian dari jumlag 1.428 yang dibantai. FOTO: SEA SHEPHERD

Darilaut – Sejumlah kalangan melayangkan petisi dengan cara mengumpulkan tanda tangan secara online untuk mengakhiri perburuan paus (whale) dan lumba-lumba (dolphin) di Kepulauan Faroe.

Di Inggris, petisi telah disampaikan ke parlemen melalui Petition.parliament.uk. Hingga Minggu (20/2) telah mengumpulkan 78.893 tanda tangan.

Petisi ini meminta agar pemerintah Inggris menangguhkan perjanjian perdagangan dengan Kepulauan Faroe, hingga semua perburuan paus dan lumba-lumba berakhir.

Pada tahun 2019 pemerintah Inggris menyelesaikan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Kepulauan Faroe. Dengan perjanjian perdagangan ini memungkinkan £100 juta ekspor ikan tangkapan dan budidaya dari Kepulauan Faroe ke Inggris.

Dalam petisi tersebut menjelaskan bahwa Inggris sangat menentang perburuan cetacea dan berkomitmen untuk menegakkan standar kesejahteraan hewan yang tinggi dalam hubungan perdagangannya.

Kepulauan Faroe, sebuah wilayah otonomi Denmark, mulai mendiskusikan tentang masa depan perburuan lumba-lumba yang kontroversial. Keputusan diharapkan akan keluar beberapa minggu mendatang.

Mengutip AFP (15/2), sebuah petisi dengan hampir 1,3 juta tanda tangan menyerukan larangan perburuan tradisional telah diajukan ke pemerintah Faroe pada hari Senin.

Pada pertemuan hari Selasa di Torshavn, pemerintah membahas kesimpulan evaluasi ulang yang disampaikan Perdana Menteri Bardur a Steig Nielsen pada September lalu, setelah pembantaian besar-besaran terhadap lebih dari 1.400 lumba-lumba Atlantik (Atlantic White-Sided Dolphins). Kejadian ini telah memicu kecaman.

“Itu adalah pertemuan pertama. Tidak ada keputusan yang diambil,” kata seorang pejabat di kantor perdana menteri kepada AFP.
Pejabat tersebut mengatakan keputusan akhir diharapkan “dalam beberapa minggu”, dan “beberapa opsi” sudah ada.

Dalam tradisi Faroe yang dikenal sebagai “grindadrap“, para pemburu mengelilingi lumba-lumba atau paus pilot dengan perahu nelayan setengah lingkaran yang lebar dan membawa mereka ke teluk dangkal.

Nelayan yang berada di pantai kemudian membantai cetacea tersebut dengan pisau.

Setiap musim panas, gambar perburuan berdarah menjadi berita utama di seluruh dunia dan memicu kemarahan di antara para pembela hak-hak hewan yang menganggap praktik itu barbar.

Namun perburuan masih mendapat dukungan luas di Faroe. Para pendukung menunjukkan bahwa hewan tersebut telah memberi makan penduduk setempat selama berabad-abad.

Biasanya, sekitar 600 paus pilot diburu setiap tahun dengan cara tersebut.

Namun perburuan lumba-lumba pada 12 September 2021 di fjord Skala jauh lebih besar dan memicu kecaman internasional. Dengan adanya kecaman tersebut mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan kembali praktik tersebut.

Hanya perburuan lumba-lumba yang saat ini sedang ditinjau, bukan seluruh tradisi “menggiling”.

Dalam petisi, yang diserahkan oleh organisasi Whale and Dolphin Conservation, para penandatangan menyerukan diakhirinya praktik tersebut.

Pada September 2021 lalu, tercatat sebanyak 1428 lumba-lumba Atlantik telah dibantai tahun ini di pantai Kepulauan Skálabotnur. Jumlah ini tercatat sebagai perburuan tunggal terbesar di dunia.

Menurut organisasi lingkungan Sea Shepherd dalam sejarah perburuan di kawasan tersebut, jumlah ini yang terbesar dalam sejarah Faroe. Jumlah lumba-lumba atau paus pilot yang dibantai sebanyak 1.200 terjadi pada tahun 1940).

Kemungkinan jumlah 1428 lumba-lumba dan cetacea lainnya ini merupakan perburuan tunggal terbesar yang pernah tercatat di seluruh dunia.

Pada Minggu malam, 12 September 2021, ratusan lumba-lumba Atlantik ini didorong dan digiring selama berjam-jam dengan kapal dan jet-ski ke perairan dangkal di Skálabotnur.

Organisasi Sea Shepherd telah mengkritik dan berjuang untuk menghentikan pembantaian cetacea tersebut. Perburuan ini juga telah menimbulkan pro dan kontra di Kepulauan Faroe.

Setiap tahun Sea Shepherd mengirim kru untuk mengamati dan mendokumentasikan pembunuhan tersebut. Gambar-gambar menunjukkan laut berubah menjadi merah saat paus dan lumba-lumba dibantai sampai mati di perairan dangkal.

Sekelompok paus dan lumba-lumba dipandu oleh perahu dan jetski menuju pantai, di mana kelompok-kelompok termasuk anak-anak menunggu dengan pisau yang siap untuk membunuh mereka.

Diperlukan waktu lebih dari 20 menit bagi hewan untuk mati, dan paus serta lumba-lumba menanggung kengerian melihat kerabat mereka terbunuh di depan mereka.

Sea Shepherd adalah kelompok aktivis yang menentang grindadrap sejak 1983. Kemudian, tahun 2016 Sea Shepherd UK meluncurkan ‘Operasi Bloody Fjords‘ dengan tim darat yang dikirim ke pulau-pulau setiap tahun untuk menyelidiki, mendokumentasikan, dan mengekspos perburuan tersebut kepada dunia agar orang Faroe menghentikan grindadrap.

Exit mobile version