“Menerapkan [prinsip-prinsip] ekonomi sirkular itu penting, itu mendasar. Tetapi harus dilakukan dengan benar,” ujarnya.
Analisis ini juga meneliti bahan kemasan alternatif, termasuk bioplastik, serat tumbuhan, dan bahan berbasis protein, yang semakin dipromosikan sebagai pengganti plastik konvensional yang lebih berkelanjutan.
Namun, “berbasis bio” tidak selalu berarti dapat terurai secara hayati. Beberapa bahan yang berasal dari sumber terbarukan, seperti jagung atau tebu, secara kimiawi mirip dengan plastik berbasis bahan bakar fosil, sementara yang lain hanya terurai dalam kondisi tertentu.
Laporan tersebut memperingatkan bahwa kemasan berbasis tumbuhan dapat menimbulkan risiko yang terkait dengan pertanian, termasuk residu pestisida, racun, dan logam berat. Bahan berbasis protein juga dapat memungkinkan alergen, seperti gluten, untuk bermigrasi ke dalam makanan.
Seperti halnya plastik konvensional, banyak alternatif juga bergantung pada bahan tambahan kimia untuk meningkatkan kinerja dan beberapa masih kekurangan data keamanan jangka panjang yang memadai.
Hasil analisis FAO juga membahas meningkatnya kekhawatiran publik tentang mikroplastik dan nanoplastik yang ditemukan dalam makanan dan minuman.
Para ilmuwan telah mendeteksi partikel plastik kecil dalam darah manusia, paru-paru, ASI, dan plasenta, yang mengkonfirmasi paparan yang meluas.




