Namun, pertumbuhan kemasan plastik telah memicu kekhawatiran lingkungan. Kurang dari 10 persen limbah plastik global telah didaur ulang hingga saat ini, meskipun pangsa tersebut diperkirakan akan meningkat seiring dengan upaya negara-negara untuk mencapai tujuan keberlanjutan.
Tidak seperti banyak produk daur ulang lainnya, kemasan makanan harus memenuhi standar keamanan kimia yang ketat.
Wadah dan pembungkus makanan plastik dapat mengandung ribuan zat yang digunakan selama pembuatan, termasuk penstabil, pelapis, pigmen, dan plasticizer. Kontaminan tambahan dapat masuk selama proses daur ulang melalui pemilahan yang tidak tepat, paparan lingkungan, atau penggunaan konsumen sebelumnya.
Analisis FAO juga menemukan bahwa plastik daur ulang dapat mengandung kadar zat yang lebih tinggi seperti logam, penghambat api, ftalat, dan polutan organik persisten daripada plastik yang baru diproduksi.
Para ahli menekankan bahwa plastik daur ulang yang disetujui untuk penggunaan makanan dapat seaman plastik baru jika menjalani pembersihan, dekontaminasi, dan tinjauan peraturan yang ketat.
Di Uni Eropa (UE), misalnya, bahan kontak makanan daur ulang yang diizinkan harus memenuhi standar yang sama dengan plastik baru.
Menurut Fattori, temuan utama laporan ini meskipun plastik daur ulang dan bahan kontak makanan alternatif dapat menawarkan manfaat lingkungan, mereka juga dapat menimbulkan beberapa pertanyaan penting tentang keamanan pangan.




