Dalam algoritma raksasa digital, ada kecenderungan mementingkan sisi komersial saja dan hanya akan mendorong konten-konten recehan yang sensasional.
Sekarang ini, banyak sekali konten seperti itu dan mengorbankan kualitas isi dan jurnalisme otentik.
Hal semacam ini, kata Jokowi, tak boleh mendominasi masyarakat kita. Media konvensional yang memiliki redaksi makin terdesak dalam peta pemberitaan. Keberlanjutan industri media konvensional juga menghadapi tantangan berat.
“Saya mendengar, bahwa sekitar 60 persen belanja iklan telah diambil oleh media digital terutama platform-platform asing. Ini sedih loh kita,” kata Presiden.
Melayangnya 60 persen belanja iklan yang diambil oleh media digital, terutama platform asing, mengartikan sumber daya keuangan media konvensional akan makin berkurang terus. Larinya belanja iklan sebagian besar ke pihak asing.
Meski sebagian sudah mengembangkan diri ke media digital, sambung Jokowi, tetapi dominasi platform asing dalam mengambil belanja iklan ini telah menyulitkan media dalam negeri.
Memang untuk bisa eksis berkelanjutan, kata Predisen, media arus utama harus melakukan inovasi-inovasi, harus adaptif terhadap teknologi, dan melakukan langkah langkah strategis.
Akan tetapi media massa tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Pemerintah dan semua pemangku kepentingan harus memberikan dukungan.





Komentar tentang post