Profil Batimetri Salah Satu Penunjang Kemunculan Hiu Paus di Perairan Botubarani

Profil batimetri sebagai habitat hiu paus di perairan Botubarani. GAMBAR: Nuralim Pasisingi, Abdul Hafidz Olii, dan Faizal Kasim (2025)

Darilaut – Sudah banyak penelitian di lokasi kemunculan hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Namun, kajian mengenai profil batimetri yang menunjang keberadaan hiu paus atau whale sharks ini belum banyak diteliti.

Untuk mengetahui bagaimana habitat hiu paus dari aspek geomorfologi di perairan Botubarani, tiga peneliti Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan Universitas Negeri Gorontalo: Nuralim Pasisingi, Abdul Hafidz Olii, dan Faizal Kasim, menguraikan kondisi ini dalam artikel dengan judul ”Whale Sharks (Rhincodon typus) in Botubarani Ecotourism Development Zone: Presence, Oceanographic, and Geomorphic Bathymetry Characters.”

Hasil riset yang diterbitkan bari-baru ini di Egyptian Journal of Aquatic Biology & Fisheries berbeda dengan kemunculan hiu paus di lokasi lain di seluruh dunia, yang biasanya terjadi jauh dari daratan, di perairan Botubarani keberadaan satwa yang dilindungi tersebut berada di dekat daratan Botubarani.

Hasil riset, “ada celah sempit (narrow bottom gap) dan lereng landas kontinen yang cukup curam dekat garis Pantai,” kata Nuralim Pasisingi, penulis pertama dalam jurnal tersebut, kepada Darilaut.id.

”Fitur geomorfologi ini menjadi habitat penting yang diduga kuat berkontribusi terhadap kemunculan hiu paus di Botubarani.”

Hasil penelitian ini menyimpulkan secara spasial, frekuensi kejadian spesifik dekat dengan garis pantai dan mendukung kemunculan habitat, sepenuhnya terkait dengan profil dasar laut yang unik sebagai karakteristik batimetri perairan Botubarani.

Agregasi hiu paus di perairan Botubarani, Kabupaten Bone Bolango. FOTO: IMAN TILAHUNGA/DARILAUT.ID

Menurut peneliti, celah dalam yang curam mendorong keberadaan hiu paus dekat garis pantai, dengan fitur dasar laut yang unik, terumbu yang terlindungi, dan habitat karang/alga.

Model ini mungkin bervariasi di beberapa area perairan di Indonesia dan di seluruh dunia.

Penelitian ini menunjukkan konsentrasi klorofil a (Chl a) sebagai pertimbangan utama yang mempengaruhi keberadaan hiu paus di Zona Pengembangan Ekowisata Botubarani.

Riset ini juga mengidentifikasi pola kemunculan hiu paus di dalam kawasan pengembangan ekowisata. Begitu pula hubungan parameter oseanografi dan karakteristik batimetri geomorfik di Botubarani.

Data oseanografi dianalisis untuk memahami habitat hiu paus lokal dari perspektif batimetri geomorfik 3D, dan untuk menentukan hubungan antara suhu permukaan laut (SPL) dan konsentrasi klorofil a (Chl a) permukaan dengan kemunculan hiu paus.

Celah yang lebih curam dan dalam sangat berkaitan dengan keberadaan hiu paus di dekat garis pantai, tempat ditemukannya fitur dasar laut yang unik dan habitat terumbu karang/alga yang terlindung.

Analisis menunjukkan bahwa konsentrasi Chl a merupakan penentu yang lebih kuat terhadap kemunculan hiu paus dibandingkan suhu permukaan laut.

Penelitian ini menyoroti pentingnya memprediksi keberadaan hiu paus di perairan Botubarani untuk mendukung strategi konservasi dan menawarkan wawasan tentang faktor-faktor lingkungan yang memengaruhi keberadaan hiu paus, yang membantu upaya perlindungan spesies yang terancam punah ini.

hiu paus menghadapi berbagai tantangan ekologi yang disebabkan oleh faktor alami dan antropogenik.

Karena pentingnya ekologi dan kerentanannya, hiu paus menerima perhatian khusus secara global, terutama terkait dengan keberlanjutan jangka panjang.

Hiu paus di perairan Botubarani. FOTO: DARILAUT.ID

Sejak 2002, hiu paus telah terdaftar dalam Lampiran II Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Terancam Punah Fauna dan Flora Liar (CITES, 2023). Pada 2016, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengklasifikasikan hiu paus sebagai spesies terancam punah.

Di Indonesia, hiu paus telah sepenuhnya dilindungi sejak 2013 berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18 Tahun 2013, yang memberikan status perlindungan penuh hiu paus.

Hiu paus tercatat sebagai spesies hiu terbesar, tersebar lautan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Lokasi-lokasi kemunculan antara lain di Teluk Cenderawasih, perairan Gorontalo, Sabang, Padang, Ujung Kulon, Kepulauan Seribu, Probolinggo, Kenjeran (Jawa Timur), Derawan (Kalimantan Timur), Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, Spermonde (Sulawesi Selatan), Maluku, dan Papua.

Kedekatan kemunculan hiu paus dengan garis pantai di Botubarani, sejak 2016 telah menjadikan area ini sebagai tujuan wisata yang menarik bagi pengunjung lokal dan internasional.

Daya tarik alami dari pengamatan hiu paus ini telah mendapatkan popularitas di kalangan wisatawan, yang terlibat dalam aktivitas seperti berperahu, snorkeling, dan menyelam di perairan Botubarani, yang terletak di Teluk Tomini.

Untuk hasil penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal, Nuralim memberikan catatan, artikel ini belum mengungkap semua penjelasan ilmiah yang lebih mendalam tentang bagaimana ”fitur geomorfologi seperti kemiringan, kedalaman, dan struktur celah tersebut memengaruhi keberadaan, perilaku, atau preferensi habitat hiu paus di Botubarani,” ujarnya.

Barangkali ke depan diperlukan kajian kuantitatif atau pendekatan model spasial untuk menjelaskan lebih detail, kata Nuralim.

Exit mobile version