Ratusan Rumah Terendam Banjir di Boalemo

Kondisi banjir yang merendam ratusan rumah di wilayah Kabupaten Boalemo pada Minggu (14/9). FOTO: BPBD Kabupaten Boalemo/BNPB

Darilaut – Ratusan rumah terendam banjir di Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo. Banjir dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kabupaten Boalemo.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) air meluap dan menggenangi pemukiman warga di Desa Jati Mulya dan Desa Harapan dengan ketinggian mencapai 1 meter.

Banjir tersebut berdampak langsung pada ratusan kepala keluarga dan mengakibatkan kerugian material yang cukup besar. Sebanyak 122 Kepala Keluarga KK atau 390 jiwa terdampak banjir.

Rinciannya, di Desa Jati Mulya terdapat 71 KK atau 213 jiwa, sementara di Desa Harapan sebanyak 51 KK atau 177 jiwa.

Selain itu, kerugian material juga cukup signifikan, di mana tercatat 115 unit rumah terendam, terdiri dari 71 unit di Desa Jati Mulya dan 44 unit di Desa Harapan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boalemo bersama berbagai pihak melakukan langkah penanganan darurat.

BPBD berkoordinasi dengan dinas terkait, aparat Kecamatan, serta pemerintah desa setempat untuk melakukan pendataan lebih lanjut terhadap korban maupun infrastruktur yang terdampak.

TNI, Polri, serta masyarakat turut terlibat dalam upaya penanganan darurat, termasuk membantu evakuasi warga serta menjaga keamanan di lokasi banjir.

Setelah upaya penanganan darurat dilakukan, kondisi banjir berangsur surut dan warga mulai melakukan pembersihan lingkungan.

BPBD Kabupaten Boalemo bersama unsur terkait terus melakukan monitoring serta memastikan kebutuhan dasar warga yang terdampak dapat segera terpenuhi.

Fact Sheet Cuaca dan Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada 15 September 2025 melaporkan hujan lebat di Desa Jati Mulya dan Harapan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.

Banjir di Bali

Penanganan darurat bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Bali pada Selasa (9/9), masih terus berlangsung di tujuh wilayah terdampak, yaitu Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Karangasem.

Data terbaru menunjukkan dampak bencana di Bali cukup besar, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian material.

Hingga Senin (15/9), data Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat 18 orang meninggal dunia, 4 orang masih hilang dalam pencarian, 6.309 KK terdampak, serta 157 jiwa mengungsi di sejumlah titik.

Kejadian bencana mengakibatkan keruagian material cukup besar, mencakup 520 unit fasilitas umum rusak, 3 jembatan putus, 23 titik jalan rusak, 82 tembok/penyengker jebol, dan 194 unit rumah rusak.

Kota Denpasar mengalami kerusakan sebanyak 474 fasilitas umum rusak, sementara Kabupaten Jembrana paling terdampak pada rumah warga dan infrastruktur jalan. Di Kabupaten Karangasem, 1 jembatan dilaporkan putus, 47 rumah rusak, serta 14 bendungan terdampak.

Selain itu, koordinasi lintas wilayah juga diperkuat dengan penetapan status tanggap darurat serta pembentukan pos komando. Status tanggap darurat telah ditetapkan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terdampak mulai 10 hingga 17 September 2025. Pos Komando Penanganan Darurat dibentuk di Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, untuk memusatkan koordinasi lintas wilayah.

Hingga kini, pemantauan dan penanganan darurat di Bali masih terus dilakukan oleh BNPB dan BPBD setempat. BPBD Provinsi Bali bersama BPBD kabupaten/kota melaksanakan penanganan darurat, termasuk penyedotan air, pembersihan material, serta pembukaan akses jalan agar aktivitas masyarakat dapat segera pulih.

Penanganan Banjir di Nagekeo

Di sisi lain, perkembangan terkini dari penanganan banjir di Kabupaten Nagekeo, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang dilanda banjir bandang sejak (7/9). Bencana ini meliputi 4 kecamatan, 31 desa, dan 2 kelurahan, dengan kondisi terparah terjadi di Kecamatan Mauponggo. Hujan deras yang mengguyur wilayah dataran tinggi memicu aliran deras dari hulu menuju pesisir, merusak pemukiman warga, sarana umum, serta lahan pertanian.

Bencana ini menimbulkan korban jiwa, ribuan warga terdampak, serta kerusakan luas pada pemukiman dan infrastruktur. Peristiwa ini telah menelan korban jiwa sebanyak 6 orang meninggal dunia, 3 orang masih hilang, dan 2 orang luka-luka.

Peristiwa ini mengakibatkan 34.812 jiwa terdampak dan sedikitnya 73 KK harus mengungsi ke rumah kerabat.

Kerugian material meliputi 33 unit rumah rusak berat, fasilitas pendidikan, kesehatan, jaringan air bersih, hingga 18 daerah irigasi, serta kerusakan lahan pertanian, perkebunan, dan infrastruktur jalan serta jembatan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah. Masyarakat diminta segera melaporkan bila terjadi peningkatan debit air atau tanda-tanda bencana lain, serta mengikuti arahan pemerintah daerah dan aparat terkait dalam upaya mitigasi maupun evakuasi.

Exit mobile version