Observasi permasalahan seputar lingkar tambang mulai dari masalah agraria, ekonomi, politik sosial maupun kesehatan adalah hal yang sangat penting dalam kegiatan ini, kata Rektor.
Mahasiswa KKN lingkar tambang di Pohuwato juga diharapkan akan bisa memahami proses, implikasi, serta dampak tambang bukan hanya dari sisi teoritis saja. Tapi juga dari sisi empiris di mana mahasiswa bisa melihat langsung kondisi dan fakta yang ada di lapangan.
“Ini patut disyukuri karena tidak semua orang berkesempatan untuk mendapatkan peluang ini,” ujar Prof Eduart.
Hal baru yang perlu dilakukan terutama inovasi sosial yang memberikan dampak sosial jangka panjang.
Kepala Pusat KKN Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Dr. Robin Pakaya, mengatakan, mahasiswa yang mengikuti KKN Destana dan Lingkar Tambang ini nantinya akan berkolaborasi dengan pemerintah desa dan kecamatan yang menjadi lokasi KKN.
Selain berkolaborasi, kata Robin, mereka akan mengidentifikasi potensi-potensi desa dan melakukan diseminasi. Selain itu, output apa yang didapatkan mahasiswa, serta pengaruh pada indeks desa tersebut.
Menurut Robin, KKN Destana bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sedangkan KKN Lingkar Tambang bekerja sama dengan Pani Gold Project.




