Rencana Iklim Baru Dapat Memerangi Kemiskinan

Menanam pohon di perkotaan dapat mengurangi risiko panas. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Puluhan negara yang telah menandatangani Perjanjian Paris akan mengajukan rencana iklim nasional baru, atau Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (Nationally Determined Contributions, NDC).

Jika dilakukan dengan benar, para ahli mengatakan rencana ini tidak hanya dapat mengendalikan gas rumah kaca yang mendorong perubahan iklim.

Hal ini dapat berfungsi sebagai cetak biru untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesehatan manusia, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperluas akses energi, sambil menciptakan triliunan dolar dalam peluang investasi.

“Ketika kita berbicara tentang perubahan iklim, kita biasanya berbicara tentang apa yang akan kita hilangkan saat planet ini menghangat,” kata Direktur Divisi Perubahan Iklim di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) Martin Krause, mengutip Unep.org.

“Tapi kita perlu berbicara lebih banyak tentang keuntungan yang mengubah masyarakat yang dapat kita capai dengan mengatasi perubahan iklim.”

Aksi iklim dapat menciptakan lapangan kerja dan menghasilkan peluang investasi. Transisi ke energi bersih disebut sebagai salah satu peluang bisnis terbesar sejak Revolusi Industri.

Pada tahun 2024 saja, investasi dalam proyek energi ramah iklim mencapai US$2,1 triliun, menurut Bloomberg, dan masih memiliki ruang untuk tumbuh. Sementara itu, mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih pada tahun 2050 dapat mendorong produk domestik bruto global 7 persen lebih tinggi, kata Dana Moneter Internasional, dan menciptakan 14 juta pekerjaan energi bersih, menurut Badan Energi Internasional.

Selain itu, aksi iklim dapat menyelamatkan nyawa dan meningkatkan kesehatan manusia. Peristiwa cuaca ekstrem, yang didorong oleh perubahan iklim, telah menyebabkan lebih dari 2 juta kematian dan kerugian ekonomi $ 4,3 triliun selama 50 tahun terakhir.

Memperlambat pemanasan global dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim akan mengurangi beban yang terus bertambah ini. Faktanya, itu bisa menyebabkan sekitar 14,5 juta kematian dan kerugian ekonomi $ 12,5 triliun, menurut Forum Ekonomi Dunia.

Manfaatnya tidak hanya di situ. Banyak sumber polusi udara luar ruangan—seperti mobil—juga merupakan sumber karbon dioksida dan emisi gas rumah kaca lainnya.

Membatasi polusi ini akan menyelamatkan jutaan nyawa dan ratusan miliar dolar dalam biaya perawatan kesehatan setiap tahun.

Setiap tahun, konsumen dan bisnis membuang-buang energi dalam jumlah yang mengejutkan. Itu tidak hanya merugikan mereka tetapi juga berkontribusi secara tidak perlu terhadap perubahan iklim.

Menurut Badan Energi Internasional, langkah-langkah efisiensi energi dapat menghemat rumah tangga secara global sebesar US$201 miliar untuk listrik dan gas pada tahun 2040.

Mempercepat transisi ke energi terbarukan juga membantu negara-negara berhemat. Biaya energi terbarukan, seperti angin dan matahari, seringkali di bawah biaya alternatif berbahan bakar fosil.

Misalnya, Kanada dapat menghemat hingga 15 miliar dolar Kanada (US$10,5 miliar) per tahun dalam biaya energi dengan mentransisikan jaringan listriknya ke nol bersih pada tahun 2050, menurut Institut Internasional untuk Pembangunan Berkelanjutan. Itu akan menghemat rata-rata rumah tangga Kanada 1.500 dolar Kanada (US $ 1.000) per tahun.

Selanjutnya, umat manusia bergantung pada alam dan keanekaragaman hayati untuk segala hal: mulai dari makanan dan air hingga udara yang dapat dihirup dan perlengkapan bangunan.

Lebih dari setengah produk domestik bruto dunia sebenarnya cukup atau sangat bergantung pada alam, menurut Forum Ekonomi Dunia.

Tetapi perubahan iklim dan hilangnya alam terkait erat. Konversi alam, seperti deforestasi, bertanggung jawab atas sebagian besar emisi gas rumah kaca, sementara perubahan iklim mendorong fenomena seperti kebakaran hutan dan penggurunan, yang menghancurkan alam.

Mengelola dan memulihkan ekosistem secara berkelanjutan adalah solusi utama untuk krisis iklim.

Menurut Laporan Kesenjangan Emisi UNEP 2024, pengurangan deforestasi, peningkatan reboisasi, dan peningkatan pengelolaan hutan saja dapat menghasilkan sekitar 20 persen dari pemotongan yang diperlukan pada tahun 2030 untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris.

Sementara itu, memulihkan 15 persen lahan yang terdegradasi dan menghentikan konversi dapat menghindari hingga 60 persen kepunahan spesies yang diperkirakan.

Perubahan iklim juga menjadi ancaman bagi masalah keamanan, meningkatkan konflik atas sumber daya yang langka seperti air dan tanah, dan mendorong migrasi paksa.

Exit mobile version