Darilaut – Pakar analisis media sosial menyoroti absennya peran akademisi dalam membentuk narasi di ruang publik digital Indonesia.
Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, menjelaskan bahwa ranah media sosial telah menjadi medan pertempuran narasi yang didominasi oleh buzzer dan bot.
Sementara suara akademisi yang berbasis data dan kebenaran justru “hilang” dan tertinggal di balik jurnal-jurnal ilmiah.
Hal ini disampaikan Fahmi yang menjadi salah satu pembicara inti pada gelaran The 2025 International Conference on Computer, Control, Informatics and Its Application (IC3INA) dengan judul “Siapa Pemilik Narasi? Data, Disinformasi, dan Hilangnya Suara Akademisi”.
Kegiatan yang diprakarsai Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OR EI) BRIN ini berlangsung di Ballroom BRIN Gatot Subroto Jakarta, pada Rabu (15/10).
Fahmi membandingkan hasil analisis jaringan sosial (Social Network Analysis) aktivitas digital antara universitas terkemuka di Amerika Serikat (AS), seperti Harvard, MIT, dan Stanford, dengan tiga universitas besar di Indonesia seperti UI, ITB, dan UGM.
Ditemukan adanya perbedaan aktivitas digital dari Universitas-Universitas di AS dan Indonesia. Universitas di AS, jejaring akun institusi dan akademisi sangat aktif.




