Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, namun guncangannya dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dan menyebabkan kepanikan masyarakat.
Hingga Kamis (18/6), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 703 kali gempa susulan. Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 5,2 dan terkecil 1,3, dengan 25 kejadian di antaranya masih dirasakan masyarakat.
Kondisi ini menyebabkan sebagian warga masih memilih bertahan di tenda maupun lokasi pengungsian sementara karena khawatir terhadap potensi gempa susulan.
Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari, terhitung mulai 17 hingga 23 Juni 2026. Penetapan status tanggap darurat ini menjadi dasar bagi percepatan mobilisasi sumber daya, dukungan logistik, serta koordinasi lintas sektor dalam penanganan dampak bencana.
Sebagai bentuk dukungan terhadap penanganan darurat di lapangan, BNPB terus melakukan pendampingan kepada BPBD Kabupaten Sigi serta menyalurkan bantuan logistik berupa tiga unit tenda pengungsi, 50 unit tenda keluarga, 150 paket sembako, 150 lembar matras, 150 lembar selimut, dan 100 unit kasur lipat.
Bantuan logistik dan permakanan juga mendapatkan tambahan berupa sembako 200 paket, paket snack anak-anak 200 paket, kids ware 50 paket, tenda keluarga 300 unit, matras 300 lembar, kasur lipat 100 lembar, selimut 100 lembar dan tenda untuk tempat ibadah sementara 10 unit.




