Darilaut - Pada 11 Oktober 2026, banjir bandang dahsyat menerjang aliran Sungai Budhi Gandaki di Distrik Gorkha, Nepal, yang terletak sekitar 100 km di barat laut Kathmandu. Banjir ini terjadi kurang dari dua bulan setelah peristiwa serupa melanda Distrik Rasuwa pada 26 Agustus 2026. Peristiwa terbaru ini berdampak pada jembatan, rumah, dan jalur pendakian di wilayah Manaslu. Pejabat setempat melaporkan bahwa lebih dari 100 pendaki asing terjebak. Satelit Copernicus Sentinel-2 menampilkan kondisi sebelum dan setelah banjir bandang tersebut. Perbandingan citra yang diperoleh dari satelit Copernicus Sentinel-2 ini memperlihatkan kondisi wilayah tersebut sebelum dan sesudah peristiwa terjadi. Pada citra tanggal 1 Oktober 2026, lembah Sungai Budhi Gandaki dan anak sungainya, Shyar Khola, tampak tidak terganggu. Pada citra tanggal 11 Oktober 2026, terlihat adanya endapan sedimen berwarna gelap di sepanjang lembah samping yang mengarah ke Shyar Khola, sementara alur sungai di bagian hilir tampak lebih gelap dan lebih lebar. Satelit Copernicus Sentinel-2 mendukung pemantauan lembah sungai dan medan yang rawan tanah longsor, sehingga membantu pihak berwenang dalam mengidentifikasi wilayah terdampak dan merencanakan penanganan bencana. Bahaya di Pegunungan Tinggi Laporan awal dari otoritas Nepal yang ditinjau oleh International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menyebutkan jebolnya bendungan alami sementara akibat tanah longsor kemungkinan memicu banjir bandang yang menerjang sistem sungai Budhi Gandaki di Nepal tengah pada 11 Oktober. Direktur Jenderal ICIMOD, Pema Gyamtsho, mengatakan bahwa peristiwa ini —yang terjadi tak lama setelah bencana Gyirong-Rasuwa— menjadi pengingat kembali betapa rentannya masyarakat pegunungan dan koridor sungai terhadap bahaya mendadak yang saling memicu (berantai). "Meskipun upaya tanggap darurat harus tetap menjadi prioritas utama, memahami pemicu banjir ini sangatlah penting untuk mengurangi risiko di masa depan dan memperkuat ketahanan," ujar Gyamtsho seperti dikutip dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO). Negara-negara lain menghadapi tantangan dan bahaya yang serupa dengan Nepal. Direktur Layanan Meteorologi dan Hidrologi Nasional Kirgistan, Daurbek Sakyev, mengatakan tragedi di Nepal telah menunjukkan betapa cepat dan merusaknya peristiwa semacam itu berkembang. Kirgistan adalah negara pegunungan dengan banyak gletser, danau di dataran tinggi, dan zona permafrost, sehingga skenario serupa mungkin terjadi di sini. Sakyev menyoroti pentingnya mengidentifikasi dan memantau danau dataran tinggi yang berpotensi berbahaya, meningkatkan prakiraan dan pemodelan, serta memperkuat kapasitas kelembagaan yang diperlukan untuk menilai dan merespons risiko yang muncul. Christophe Lienert, dari Kantor Federal Swiss untuk Lingkungan Hidup, berbagi pelajaran dari peristiwa runtuhnya es dan batuan pada tahun 2025 di desa Blatten, wilayah Alpen, yaitu pentingnya rantai peringatan terkoordinasi yang menghubungkan informasi berbasis sains dengan pengambilan keputusan dan tindakan dini, yang didukung oleh investasi berkelanjutan. Citra udara yang memperlihatkan kondisi sebelum dan sesudah banjir yang melanda wilayah Budhi Gandaki, serta titik awal kejadian tersebut. GAMBAR: QIAO LIU/IMHE/WMO Peringatan dan Tindakan Dini Negara-negara di kawasan Hindu Kush Himalaya telah mencapai kemajuan dalam upaya penyelamatan nyawa melalui sistem peringatan dini banjir yang lebih baik, baik yang berbasis masyarakat maupun berbasis model. Hal ini mencakup Nepal, yang telah meningkatkan pemantauan hidrologis serta prediksi banjir sungai dan banjir bandang. Ahli meteorologi senior di Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal, Bibhuti Pokharel, menjelaskan bagaimana keterbatasan infrastruktur pengamatan menyulitkan deteksi dan prediksi bahaya yang muncul tiba-tiba di daerah terpencil. Departemen Hidrologi dan Meteorologi Nepal sempat mengeluarkan peringatan melalui SMS saat terjadi banjir Bhote Koshi. Namun, banyak warga meragukan tingkat keparahan peringatan tersebut karena mereka belum pernah mengalami banjir semacam itu sebelumnya. Sebagian orang bahkan pergi ke daerah rawan banjir untuk mengambil foto dan video. Menurut Pokharel, besarnya skala dan kecepatan bencana tersebut membuat banyak orang tidak sempat mengambil tindakan. "Peringatan dini saja tidaklah cukup,” kata Pokharel, hal itu tidak cukup karena penyelamatan nyawa merupakan upaya bersama dari berbagai sektor, yang melibatkan koordinasi antara otoritas penanggulangan bencana, instansi terkait, pemerintah daerah, masyarakat umum, dan para ahli prakiraan cuaca. Prakiraan cuaca dan peringatan dini harus disebarluaskan melalui sumber-sumber yang andal dan tepercaya—dimulai dari layanan meteorologi dan hidrologi nasional. Informasi yang belum terverifikasi dari berbagai sumber—terutama di era ketika misinformasi dapat menyebar dengan cepat dan diperparah oleh konten buatan AI—dapat menimbulkan kebingungan, mengikis kepercayaan, dan menghambat tindakan saat terjadi bencana, kata Pokharel. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini telah mencatat kemajuan. Jumlah bencana yang tercatat di kawasan tersebut meningkat dari 864 kejadian pada periode 1986–2005 menjadi 1.148 kejadian pada periode 2006–2025. Jumlah korban jiwa yang dilaporkan turun dari 272.085 menjadi 231.470, dan jumlah korban luka turun dari 1,17 juta menjadi 0,21 juta, kata Manish Shrestha, ahli hidrologi di ICIMOD, mengutip statistik EM-DAT. Mengingat sungai dan risiko banjir melintasi batas negara, pertukaran informasi yang tepat waktu serta kerja sama antara negara di wilayah hulu dan hilir menjadi kunci utama, ujarnya.