Minggu, November 8, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Berita

Sejarah Erupsi Anak Krakatau: Runtuh 2018, Tumbuh Kembali Hingga 2026

redaksi
23 September 2026
Kategori : Berita
0
Sejarah Erupsi Anak Krakatau: Runtuh 2018, Tumbuh Kembali Hingga 2026

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terpantau dari pesawat Grand Caravan Susi Air pada Minggu 23 Desember 2018. FOTO: SUSI AIR

Perjalanan tersebut bermula ketika Anak Krakatau muncul pada 1927 sebagai fase pembangunan kembali sistem gunung api setelah runtuhnya Krakatau akibat erupsi 1883. Pada periode awal, pusat erupsi masih berada di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut.

Interaksi magma panas dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan berupa ledakan uap, abu, dan material vulkanik.

Endapan yang terus terakumulasi kemudian membentuk daratan Anak Krakatau yang muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.

Pertumbuhan berlanjut selama puluhan tahun. Pada periode 1930–1959, aktivitas didominasi erupsi freatomagmatik akibat interaksi magma dan air. Erupsi berulang dengan lontaran material dan kolom abu secara perlahan memperbesar tubuh Anak Krakatau.

Memasuki periode 1959–2018, ketika kawah semakin terisolasi dari laut, aktivitas bergeser menjadi lebih dominan Strombolian–Vulcanian dan efusif. Letusan menghasilkan material pijar, bom vulkanik, abu, serta aliran lava.

Akumulasi produk erupsi selama puluhan tahun membuat kerucut Anak Krakatau tumbuh hingga mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum mengalami kolaps pada 2018.

Dapur Magma

Setelah letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883, Anak Krakatau lahir pada 1927 dan hingga kini menjadi bagian aktif dari sistem Krakatau, dengan kedalaman penyimpanan magma lebih dari 7 km.

Halaman 2 dari 3
Sebelumnya123Selanjutnya
Tags: Aditya PratamaBRINDini NurfianiGunung Anak KrakatauSelat Sunda
Bagikan154Tweet96KirimKirim
Previous Post

El Niño Kian Menguat di Saat Kondisi Suhu yang Sudah Lebih Panas

Next Post

Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

Postingan Terkait

Ekonomi Gorontalo Y-on-Y 2026 Tumbuh 5,63 Persen

Ekonomi Gorontalo Y-on-Y 2026 Tumbuh 5,63 Persen

8 November 2026
Menuju Kondisi El Niño yang Lebih Kuat Desember 2026

Earth Information Day, WMO Luncurkan Kondisi Iklim 2026 Pada Konferensi Iklim COP31

8 November 2026

Esai Digitalisasi Ekowisata Hiu Paus Mahasiswa UNG Raih Prestasi Nasional

Badai Tropis Cempaka Terbentuk di Dekat Kepulauan Mariana Utara

Program Studi Pendidikan Geografi UNG Raih Akreditasi Unggul

Lebih Dari 190 Negara Akan Menghadiri COP31 di Antalya Turki Saat Overshoot Perjanjian Paris 1,5°C

Konferensi Iklim PBB di Tengah Kekeringan, Banjir Dahsyat, Gelombang Panas dan El Niño Sangat Kuat

Potensi Hujan Lebat dan Kekeringan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Next Post
Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

Tubuh Gunung Anak Krakatau Berubah Drastis Setelah Runtuh 2018

TERBARU

Ekonomi Gorontalo Y-on-Y 2026 Tumbuh 5,63 Persen

Earth Information Day, WMO Luncurkan Kondisi Iklim 2026 Pada Konferensi Iklim COP31

Esai Digitalisasi Ekowisata Hiu Paus Mahasiswa UNG Raih Prestasi Nasional

Badai Tropis Cempaka Terbentuk di Dekat Kepulauan Mariana Utara

Program Studi Pendidikan Geografi UNG Raih Akreditasi Unggul

Lebih Dari 190 Negara Akan Menghadiri COP31 di Antalya Turki Saat Overshoot Perjanjian Paris 1,5°C

AmsiNews

REKOMENDASI

KPU Kabupaten Gorontalo Evaluasi Penyusunan Laporan Keuangan Pilkada

Tsunami Akibat Gempa NTT di Laut Flores M 7,7 Menjangkau 16 Lokasi 4 Provinsi

Bibit Siklon Tropis 95W Berkembang di Dekat Natuna

Kemerdekaan Pers, Profesionalisme dan Ekonomi Media Jadi Tantangan Tahun 2025

Siklon Tropis Gezani Mendekati Pendaratan di Madagaskar

Peneliti UNG Temukan Cara Menangkal Nyamuk Malaria Dengan Rambut Jagung dan Daun Pepaya

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.