BMKG mengatakan daerah konvergensi lain juga diprakirakan terbentuk di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mana kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar bibit siklon dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut.
Daerah tekanan rendah terpantau terbentuk di Australia bagian utara yang menginduksi terbentuknya daerah pertemuan angin yang memanjang dari NTB, NTT, Maluku bagian selatan, hingga Laut Arafuru.
Dengan kelembapan udara yang juga masih cukup tinggi, serta labilitas lokal kuat yang mendukung proses konvektif pada skala lokal di beberapa wilayah, kondisi di atas berpotensi meningkatkan curah hujan secara signifikan di sebagian wilayah Indonesia.
BMKG mencatat selama 6 – 9 Maret 2026, kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di sebagian wilayah Indonesia. Pada periode tersebut, curah hujan harian pada kategori sangat lebat teramati di wilayah Banten (141.8 mm/hari) dan Jakarta Timur (123.4 mm/hari).
Selain itu, curah hujan lebat teramati di Sulawesi Selatan (84.4 mm/hari), Bengkulu (82.9 mm/hari), Jambi (78 mm/hari), Sumatra Utara (73.2 mm/hari), dan Jawa Timur (59.8 mm/hari).
Tingginya intensitas hujan selama periode tersebut, menurut BMKG, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, dipengaruhi oleh penguatan Monsun Asia yang mendorong aliran angin dari Laut Cina Selatan ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Jawa, sehingga memperkuat daerah konvergensi dan memicu pertumbuhan awan hujan.




