Oleh: Dr. Amar Rao (BML Munjal University)
Negara-negara berkembang perlu menjajaki strategi inovatif dan praktis untuk menggalang dana guna adaptasi dan mitigasi perubahan iklim
“Perubahan iklim tidak menunggu janji-janji internasional, dan negara-negara paling rentan di dunia pun tidak bisa menunggu — karena setiap dolar yang tertunda berarti nyawa, mata pencaharian, dan kesempatan untuk bertahan hidup.”
Kesimpulan COP29 menegaskan kenyataan yang mengkhawatirkan bagi negara-negara berkembang — kesenjangan yang lebar antara kebutuhan pendanaan iklim dan penyaluran dana yang sebenarnya.
Perkiraan untuk mengatasi krisis iklim yang semakin parah mencapai USD$1,3 triliun, namun negara-negara maju hanya berjanji untuk menggalang USD$300 miliar per tahun hingga 2035.
Meskipun diumumkan sebagai tiga kali lipat dari target tahunan USD$100 miliar yang ditetapkan pada 2009, komitmen ini mendapat kritik tajam dari negara-negara berkembang yang menganggapnya tidak memadai.
Analis dari Pusat Pengembangan Global memperkirakan bahwa komitmen yang ada, termasuk kontribusi dari bank pembangunan multilateral dan dana swasta, sudah dapat mencapai sekitar USD$200 miliar per tahun pada 2030.
Kontribusi dari ekonomi emerging seperti China berpotensi meningkatkan total menjadi USD$265 miliar.




