Ada dua alasan sektor bangunan sebagai sumber utama emisi karbon dioksida. Pertama, kata Coutto, bangunan menggunakan sejumlah besar energi untuk pemanas, pendingin, dan penerangan.
Pada tahun 2022, sektor bangunan menyumbang 34 persen konsumsi listrik dunia, berdasarkan Laporan Status Global untuk Bangunan dan Konstruksi UNEP.
Di banyak negara, sebagian besar energi dihasilkan dari bahan bakar fosil – seperti batu bara dan minyak – yang melepaskan karbon dioksida saat dibakar. ”Inilah yang disebut dengan karbon operasional,” kata Coutto.
Kedua, menurut Coutto, bangunan penuh dengan baja, semen, aluminium, dan kaca, yang memerlukan banyak energi untuk pembuatan, pengangkutan, dan pemasangannya, yang juga menghasilkan emisi karbon dioksida. Inilah yang dikenal sebagai karbon yang terkandung.
Temuan Laporan Status Global untuk Bangunan dan Konstruksi, emisi sektor bangunan global masih meningkat, melonjak satu persen antara tahun 2021 dan 2022.
Meskipun jumlah tersebut mungkin tidak seberapa, namun, menurut Coutto, hal ini setara dengan menambahkan 10 juta mobil ke jalan-jalan di seluruh dunia. Laporan tersebut menemukan bahwa sektor ini masih berada di luar jalur untuk mencapai dekarbonisasi pada tahun 2050.
Pada tahun 2022, hanya enam persen energi yang digunakan dalam bangunan berasal dari sumber terbarukan. Angka ini masih jauh dari target 18 persen pada tahun 2030 yang diimpikan oleh Badan Energi Internasional (IEA).




