Darilaut – Selama tahun 2026, migran — orang yang melakukan migrasi — mengalami peningkatan. Cuaca ekstrem, perang, tekanan ekonomi, dan perubahan kebijakan telah mengubah pola perjalanan migrasi di berbagai wilayah selama empat bulan pertama tahun 2026, yang memicu lonjakan angka kematian.
Hal ini terungkap dalam data baru yang dirilis Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), pada hari Rabu.
Data terbaru badan tersebut yang berbasis pada rute perjalanan menunjukkan peningkatan drastis jumlah korban jiwa di kalangan orang-orang yang mencari kehidupan lebih baik—mulai dari Teluk Benggala hingga Samudra Atlantik—di mana banyak di antaranya menjadi korban perdagangan manusia atau penipuan di sepanjang perjalanan.
“Perhatian sering kali hanya tertuju pada segelintir rute tertentu, padahal hampir separuh dari 304 juta migran internasional di dunia sebenarnya bermigrasi di dalam kawasan mereka sendiri—baik untuk tujuan pekerjaan, keluarga, pendidikan, maupun keselamatan,” kata Wakil Direktur Jenderal IOM, Ugochi Daniels.
Ia merujuk pada laporan terbaru berjudul Global Overview of Migration Routes atau Gambaran Umum Global Rute Migrasi, yang disusun berdasarkan data dari matriks pelacakan perpindahan penduduk (displacement tracking matrix), Missing Migrants (Migran Hilang), serta mitra-mitra regional.
“Data yang akurat bukanlah pengganti solusi, namun tanpa data, solusi tidak dapat ditemukan,” ujar Daniels, seraya menegaskan bahwa upaya penyelamatan nyawa merupakan tanggung jawab bersama yang tidak dapat dipikul oleh satu negara saja.
“Ketika semua pihak bekerja berdasarkan gambaran situasi yang jelas dan sama, keputusan yang lebih baik pun dapat diambil.”
Beberapa rute mencatat penurunan drastis dalam jumlah kedatangan, rute lainnya justru mengalami lonjakan angka kematian.
“Berkurangnya jumlah kedatangan tidak berarti perjalanan menjadi lebih aman,” kata Daniels.
Di rute Mediterania tengah, tercatat 821 orang meninggal atau hilang—menunjukkan peningkatan sebesar 111 persen—sementara jumlah kedatangan turun 46 persen menjadi 8.577 orang.
Lebih dari separuh kematian tersebut terjadi pada bulan Januari saja, saat Badai Harry melanda kawasan itu.
Sementara itu, di rute Mediterania timur, angka kematian meningkat tiga kali lipat menjadi 244 jiwa, dengan banyak kasus yang terkait dengan bencana di dekat Pulau Kreta. Sorotan lain dari laporan tersebut:
• Jumlah kedatangan ke Spanyol melalui rute Mediterania Barat meningkat 66 persen menjadi 5.647 orang, didorong oleh peningkatan tiga kali lipat dalam penyeberangan jalur darat ke Ceuta dan Melilla.
• Rute Atlantik Afrika Barat mencatat penurunan paling tajam dibandingkan rute mana pun di Eropa, yakni turun 78 persen menjadi 2.276 orang yang tiba di Spanyol, seiring bergesernya titik keberangkatan ke arah selatan yang membuat perjalanan menjadi lebih jauh dan berbahaya.
• Yaman mencatat kenaikan sembilan persen dalam jumlah kedatangan melalui rute timur dari Tanduk Afrika.
• Konflik di Timur Tengah memicu pengungsian besar-besaran di Lebanon dan peningkatan jumlah orang yang kembali melintasi perbatasan ke Suriah.
Isu Rohingya
Para ahli independen PBB menyerukan tindakan mendesak untuk mendukung hampir 1,2 juta pengungsi Rohingya yang tinggal di Bangladesh, menyusul laporan bahwa dua kapal yang membawa lebih dari 500 orang terbalik di lepas pantai Myanmar setelah berangkat dari negara bagian Rakhine pada akhir Juni.
Sering kali menjadi korban perdagangan manusia, lebih dari 6.500 orang Rohingya melakukan perjalanan laut yang berbahaya pada tahun 2025, dengan perkiraan 900 kematian—sekitar 66 persen di antaranya adalah perempuan dan anak-anak—menurut badan-badan PBB.
Satu dari tujuh orang hilang atau meninggal di Laut Andaman dan Teluk Benggala, yang merupakan “tingkat kematian tertinggi di dunia untuk rute perjalanan laut pengungsi dan migran mana pun,” ujar para ahli yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB tersebut.
Menyadari tanggung jawab bersama masyarakat internasional, mereka menyerukan langkah-langkah efektif untuk mencegah perdagangan manusia dan memastikan respons yang berbasis hak asasi manusia, mulai dari layanan perlindungan hingga penyediaan akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan layanan kesehatan.
