Darilaut – Tambak udang dan ladang garam yang terbengkalai yang mengotori garis pantai Sri Lanka bukti buruknya pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Industri dan infrastruktur telah menghapus sebagian besar hutan bakau yang kaya akan keanekaragaman hayati yang dulunya menopang komunitas nelayan dan melindungi mereka dari cuaca ekstrem.
Saat ini, program nasional untuk menanam kembali dan meregenerasi hutan mangrove (bakau) bertujuan memulihkan keseimbangan – dan memberikan kehidupan baru ke beberapa desa pesisir.
“Orang-orang datang kembali karena mereka melihat tangkapan (ikan) meningkat di wilayah ini,” kata Sevvandi Jayakody, pakar mangrove di Universitas Wayamba, seperti dikutip dari Unep.org, Senin (20/5).
“Dan ini merupakan hal yang sangat baik karena Anda tidak hanya mengembalikan keanekaragaman hayati yang hilang, Anda juga mengembalikan mata pencaharian yang hilang.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini menobatkan regenerasi bakau di Sri Lanka sebagai salah satu Program Unggulan Restorasi Dunia 2024, sebuah penghargaan yang mengakui upaya luar biasa untuk menghidupkan kembali alam.
Penghargaan ini, membuka jalan bagi pendanaan dan dukungan teknis dari PBB dan merupakan bagian dari Dekade Restorasi Ekosistem PBB, sebuah gerakan global untuk mencegah dan membalikkan degradasi alam.
Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Inger Andersen, yang memimpin Dekade PBB, mengatakan pendekatan holistik Sri Lanka terhadap restorasi adalah pendekatan yang dapat dimanfaatkan oleh negara-negara lain.
“Mangrove adalah salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Komitmen Sri Lanka yang teguh terhadap restorasi hutan adalah salah satu kesepakatan terbaik yang bisa dilakukan dengan alam,” kata Andersen.
“Pekerjaan tanpa henti yang dilakukan negara ini dalam menyempurnakan penanaman bakau menunjukkan betapa restorasi harus menjadi investasi jangka panjang.”
Garis Pertahanan
Pada tanggal 5 Juni, Arab Saudi akan menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024, sebuah perayaan tahunan planet bumi yang tahun ini berfokus pada degradasi lahan, penggurunan, dan ketahanan terhadap kekeringan.
Lebih dari 2 miliar hektar lahan di dunia terdegradasi, berdampak pada separuh populasi dunia dan mengancam banyak spesies.
Salah satu ekosistem yang paling terkena tekanan adalah hutan bakau. Pohon-pohon ini tumbuh subur di sepanjang perbatasan antara darat dan laut dan merupakan garis pertahanan pertama bagi banyak garis pantai, mengurangi erosi akibat gelombang badai, arus, gelombang, dan air pasang.
Sistem akarnya yang rumit menarik bagi ikan dan organisme lain yang mencari tempat berkembang biak, makanan, dan tempat berlindung.
Hutan bakau merupakan habitat bagi lebih dari 1.500 spesies, sekitar 15 persen di antaranya terancam punah, demikian temuan laporan terbaru dari UNEP.
Tsunami di Samudera Hindia pada tahun 2004 menewaskan lebih dari 30.000 orang di Sri Lanka.
Sementara sebagian garis pantai rentan terhadap tsunami karena sekitar sepertiga hutan bakau di Sri Lanka telah ditebangi, terutama untuk dijadikan tambak udang dan tambak garam.
Budidaya udang merupakan sumber lapangan kerja yang penting bagi masyarakat pesisir dan pendapatan ekspor bagi negara.
Namun praktik yang tidak berkelanjutan dapat menyebabkan polusi dan penyakit di sektor perikanan dan banyak tambak udang yang terbengkalai.
Memelihara Alam
Setelah tsunami, Sri Lanka melakukan upaya massal untuk memulihkan hutan bakau. Namun, karena hampir tidak ada tanaman yang bertahan, negara ini mengubah taktik dari mencoba menanam kembali hutan bakau menjadi lebih melindungi hutan bakau yang ada agar dapat tumbuh kembali secara alami.
Pada tahun 2015, Sri Lanka menjadi negara pertama yang secara hukum melindungi seluruh hutan bakau yang tersisa.
Pemerintah juga meluncurkan program nasional untuk memulihkan ribuan hektar lahan yang hilang dan menunjuk sebuah komite ahli untuk memberikan panduan dan memastikan bahwa restorasi kali ini akan berhasil.
Proyek restorasi sedang berlangsung di distrik pesisir di seluruh Sri Lanka. Di beberapa tempat, para peneliti sedang mengkaji potensi lokasi restorasi mangrove, termasuk kualitas tanah dan airnya. Hal ini akan membantu para pegiat konservasi dalam memilih campuran spesies bakau terbaik untuk suatu lokasi tertentu, sehingga menciptakan kondisi bagi hutan bakau untuk pulih kembali.
Pendekatan ini dirancang untuk menghilangkan hambatan terhadap pertumbuhan mangrove, termasuk mati lemas akibat polusi plastik, dan memungkinkan alam “melakukan keajaibannya,” kata Jayakody, yang memimpin komite ahli.
