Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga temuan-temuan ini. BRIN berada di wilayah hulu, yakni riset, sementara pelestarian dan pemanfaatan berada pada Kementerian Kebudayaan. Pembagian peran ini jelas dan harus dijalankan secara kolaboratif, kata Herry.
Menurut Herry, temuan ini juga menegaskan pentingnya riset kolaboratif jangka panjang yang didukung ekosistem riset yang kuat, mencakup sumber daya manusia, pendanaan, dan infrastruktur.
BRIN terus mendorong penguatan talenta melalui skema magang riset, degree by research, postdoktoral, dan visiting researcher, termasuk kerja sama internasional yang berkelanjutan.
Selain kolaborasi dengan universitas di Australia, riset ini melibatkan Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dan XIX, Universitas Hasanuddin, Universitas Halu Oleo, serta Institut Teknologi Bandung.
BRIN juga menilai peran pemerintah daerah dan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) krusial dalam mengelola dan mensinergikan kegiatan riset di wilayah.
Temuan sebaran seni cadas Pleistosen di kawasan karst Sulawesi membawa implikasi kebijakan yang luas.
Para peneliti menyerukan agar perlindungan kawasan karst yang mengandung situs seni cadas purba diintegrasikan dalam perencanaan tata ruang dan kebijakan pengelolaan sumber daya alam.




