Kebakaran lahan gambut merupakan tantangan berulang di Indonesia, negara yang memiliki sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia. Saat dilanda kekeringan, lanskap gambut di kepulauan ini beberapa kali berubah menjadi kobaran api yang tak terkendali dalam tiga dekade terakhir; kebakaran tersebut menghasilkan selimut asap yang bertahan selama berminggu-minggu dan mengganggu aktivitas sehari-hari jutaan penduduk.
Meskipun kebakaran terjadi setiap tahun di Indonesia, tahun-tahun yang dipengaruhi El Niño—terutama tahun 1997 dan 2015—mencatat tingkat kebakaran paling ekstrem dalam beberapa dekade terakhir.
Pola iklim ini—yang menurut penilaian NOAA sedang terjadi dan menguat pada bulan Agustus—biasanya menyebabkan penurunan curah hujan yang tajam di Indonesia, terutama jika dibarengi dengan fase positif Indian Ocean Dipole (Dipol Samudra Hindia) yang juga sedang terjadi.
“Indonesia baru memasuki minggu ketiga musim kebakaran, namun kami melihat aktivitas kebakaran meningkat tajam, mirip dengan kondisi tahun 2015,” ujar Robert Field, peneliti dari Universitas Columbia yang mengembangkan Global Fire Weather Database, sebuah perangkat yang menghasilkan prakiraan cuaca terkait kebakaran secara real-time dan bersifat eksperimental.
“Fenomena El Niño yang kuat membuat musim kemarau menjadi lebih kering di wilayah-wilayah yang rawan kebakaran dan memperparah kebakaran—persis seperti yang telah kami perkirakan,” ujarnya.



