Pada tahun 2015, setelah berkobar selama lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia telah melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca—jumlah yang melampaui total emisi tahunan Jepang.
Per tanggal 2 September, kebakaran di Indonesia pada tahun 2026—yang telah berlangsung selama sekitar satu bulan—telah melepaskan emisi sekitar 10 persen dari jumlah yang dihasilkan oleh kebakaran tahun 2015.
Seperti halnya pada tahun 2015, Indonesia mengalami kekeringan parah dan meluas pada musim panas tahun 2026.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, sekitar 90 persen wilayah negara tersebut mengalami curah hujan yang sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali pada awal Agustus.
Biasanya, kondisi yang terlalu basah mencegah penyebaran api melalui lapisan gambut di bawah permukaan tanah di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, namun api dapat menjalar dalam kondisi kering.
“Kebakaran permukaan tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi begitu api merambat ke bawah permukaan tanah, api tersebut sulit sekali dipadamkan,” kata Field.
“Api akan terus membara hingga hujan turun pada bulan Oktober atau November.”
Pemerintah Indonesia memanfaatkan data pengamatan NASA dan NOAA yang diperoleh dari sensor MODIS dan VIIRS untuk memantau titik api aktif secara hampir seketika (near-real-time).



