Sebagai contoh, SiPongi—platform pemantauan kebakaran milik Kementerian Kehutanan Indonesia yang berbasis data MODIS dan VIIRS—mencatat adanya 946 titik api pada tanggal 31 Agustus 2026.
Namun, sulit bagi MODIS dan VIIRS untuk mendeteksi kebakaran yang tertutup asap tebal atau awan, kebakaran di lapisan bawah hutan (understory), atau kebakaran di bawah tanah pada lapisan gambut.
Saat kebakaran di Indonesia mencapai intensitas tertinggi, jumlah titik api yang tercatat oleh VIIRS atau MODIS justru bisa menurun.
“Secara paradoks, peristiwa asap terparah justru bisa menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa menggunakan MODIS dan VIIRS,” ujar Mark Cochrane, seorang ahli ekologi di University of Maryland Center for Environmental Science yang telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebakaran lahan gambut di Indonesia selama hampir satu dekade.
Pembangunan saluran irigasi berskala besar dan pengeringan rawa gambut pada tahun 1990-an—yang merupakan bagian dari upaya menciptakan lahan pertanian padi berskala masif—turut berkontribusi pada kerentanan wilayah tersebut terhadap kebakaran saat ini dengan menurunkan muka air tanah secara signifikan di kawasan lahan basah, kata Cochrane.
Ia juga mencatat bahwa perkebunan kelapa sawit dan perkebunan hutan lainnya umum ditemukan di wilayah ini. Namun, setelah musim kebakaran yang sangat parah pada tahun 2015, pemerintah dan berbagai organisasi telah berupaya membendung sebagian saluran irigasi dan memulihkan lahan basah.



