Terdapat pula upaya baru untuk meningkatkan kapasitas pemadaman kebakaran dan mengurangi jumlah kebakaran yang dipicu secara tidak sengaja oleh aktivitas manusia.
“Tahun ini akan menjadi ujian sesungguhnya bagi langkah-langkah yang telah diterapkan setelah tahun 2015,” kata Shi Jun Wee, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Maryland.
Wee tergabung dalam tim yang bermitra dengan NASA dan MapBiomas untuk mengembangkan algoritma serta teknik baru guna mendeteksi lebih banyak kebakaran lapisan bawah hutan dibandingkan kemampuan MODIS dan VIIRS, dengan memanfaatkan pengamatan inframerah gelombang pendek (shortwave infrared) dari satelit Landsat dan Sentinel-2.
Seiring berlanjutnya kebakaran, ia berencana memantau perkembangannya menggunakan browser data Worldview milik NASA, FIRMS (Fire Information for Resource Management System), pengamatan HLS (Harmonized Landsat and Sentinel-2), serta GFED (Global Fire Emissions Database).
Di lapangan, baik di Indonesia maupun negara-negara tetangga, asap telah menyebabkan gangguan yang meluas. Pejabat Indonesia telah memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk terpapar asap berbahaya.
Menurut laporan berita, sejumlah sekolah mulai beralih ke pembelajaran jarak jauh, sembilan taman nasional ditutup, dan beberapa penerbangan mengalami penundaan akibat asap tebal.



