Siklon Tropis Nalgae Mendekati Hong Kong, Observatorium Pertimbangkan Sinyal Badai No 8

Trek lintasan siklon tropis Nalgae yang mendekati Hong Kong di Laut Cina Selatan. GAMBAR: HONG KONG OBSERVATORY

Darilaut – Siklon tropis Nalgae, pada Rabu (2/11) hari ini mendekati Hong Kong dan Macao. Nalgae telah melemah dari topan (Typhoon) menjadi badai tropis parah (Severe Tropical Storm) dan badai tropis (Tropical Storm) di Laut Cina Selatan, namun Observatorium Hong Kong tetap mempertimbangkan untuk mengeluarkan sinyal badai No 8, Rabu siang ini.

Dalam buletin Observatorium yang dikeluarkan Rabu pukul 01.45 waktu setempat, sinyal angin kuat No. 3 masih berlaku. Ini berarti angin dengan kecepatan rata-rata 41 hingga 62 kilometer per jam diperkirakan akan terjadi.

Pada pukul 02.00 pagi, Badai Tropis Parah Nalgae diperkirakan berada sekitar 270 kilometer tenggara Hong Kong dan diperkirakan bergerak ke barat laut atau utara-barat laut dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam mendekati pantai Guangdong barat.

Dalam beberapa jam, Nalgae terus mendekat ke pantai Guangdong. Di bawah pengaruh gabungan Nalgae dan monsun timur laut, angin lokal umumnya kuat dan angin kencang sesekali di dataran tinggi.

Meskipun Nalgae akan melemah secara bertahap, tingkat pelemahannya tetap tidak pasti, kata Observatorium.

Rabu hari ini, diperkirakan siklon tropis Nalgae akan bergerak dalam jarak sekitar 150 kilometer ke barat daya dan angin lokal akan semakin kuat.

Sinyal Angin Kuat No. 3 akan tetap berlaku sebelum jam 06.00 pagi hari ini. Observatorium akan mempertimbangkan untuk mengeluarkan sinyal badai No. 8 pada siang hari ini, kata Observatorium.

Namun, kata Observatorium, waktu yang tepat akan tergantung pada variasi aktual angin lokal. Harap tetap waspada dan perhatikan buletin cuaca terbaru sebelum berangkat pagi ini.

Dalam satu jam terakhir, angin berkelanjutan maksimum yang tercatat di Tate’s Cairn, Pulau Waglan dan Cheung Chau adalah 82, 66 dan 50 kilometer per jam dengan hembusan maksimum masing-masing 98, 75 dan 73 kilometer per jam.

Sebelumnya, pada Senin (31/10) Administrasi Meteorologi China (CMA) telah mengaktifkan respons darurat tingkat empat untuk mengatasi dampak topan Nalgae, pada pukul 10.00 waktu setempat.

Di bawah keadaan darurat ini, Departemen meteorologi terkait dan departemen meteorologi provinsi seperti Guangdong, Hainan, Fujian, dan Guangxi diharuskan segera memasuki posisi darurat dan menempatkan prakiraan yang tepat waktu serta layanan yang disempurnakan untuk pemerintah, sektor terkait, dan masyarakat.

Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang (JMA) menginformasikan Nalgae dengan kekuatan (jenis) siklon tropis yang berkembang ekstrem, bergerak ke utara barat-laut. Tekanan udara pusat 975 hPa (hektopaskal).

Prediksi Rabu pukul 12.00 Nalgae masih dengan kekuatan siklon tropis yang berkembang ekstrem. Sistem ini akan bergerak secara lambat ke barat-laut.

Menurut Pusat Peringatan Siklon Tropis Bersama, Joint Typhoon Warning Center (JTWC) dalam enam jam terakhir, Badai Tropis Nalgae dengan nama Filipina “Paeng” terletak 313 km selatan-tenggara Hong Kong, dan telah bergerak ke utara-barat laut.

Lingkungan yang tidak menguntungkan, terutama karena gelombang dingin, suhu permukaan laut yang dingin, dan peningkatan geseran angin, akan terus melemahkan Nalgae hingga 65 km per jam (35 knot) dalam 36 jam sebelum pendaratan.

Sistem ini dapat memberikan dampak langsung pada gelombang laut dengan tinggi maksimum 8,5 meter (28 feet).

Tim penyelamat melakukan pencarian di lokasi bencana yang berlumpur dan pihak berwenang menemukan dua puluh mayat di Barangay Kusiong, sementara lima lainnya masih dalam pencarian. FOTO: PHILIPPINE COAST GUARD

130 Meninggal dan Jutaan Orang Terdampak

Kantor berita Associated Press (AP) melaporkan Badai Tropis Nalgae yang melintasi dan mendarat di Filipina menewaskan lebih dari 130 orang.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Selasa menyatakan penggundulan hutan selama bertahun-tahun yang menyebabkan tanah longsor mematikan yang mengubur komunitas yang berada di lereng gunung di tengah hujan deras pekan lalu yang dipicu oleh badai.

Selama inspeksi udara atas kerusakan luas yang ditimbulkan oleh Badai Tropis Nalgae di provinsi Maguindanao selatan, presiden menunjukkan kepada gubernur bagaimana tanah longsor mengalir di lereng Gunung Minandar yang gundul.

“Saya perhatikan bahwa di semua tempat di mana tanah longsor turun, gunung-gunungnya gundul. Itulah masalahnya,” kata Marcos Jr. kepada gubernur.

“Kita harus memasukkan penanaman pohon dalam pengendalian banjir kita,” katanya.

“Kami telah mendengar tentang ini berulang kali, tetapi kami masih menebang pohon, jadi itulah yang terjadi, tanah longsor ini.”

Mengutip Reliefweb.int Senin (31/10) lebih dari 2 juta orang terkena dampak badai tropis parah Nalgae yang mendarat awal di Catanduanes, wilayah Bicol, pada 29 Oktober.

Tujuh belas wilayah terkena dampak angin kencang dan hujan lebat yang mengakibatkan tanah longsor dan lebih dari 554 insiden banjir di berbagai wilayah di seluruh negeri.

Laporan pemerintah, setidaknya 863.000 orang mencari perlindungan sementara yang berada di 2.801 pusat evakuasi atau dengan teman dan keluarga mereka.

Dewan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC) telah melaporkan bahwa sedikitnya 101 orang meninggal (73 dikonfirmasi, 28 untuk validasi), 70 terluka dan 66 masih hilang.

Departemen Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan (DSWD) melaporkan sebanyak 4.863 rumah rusak, 758 di antaranya rusak total.

Dari 119 bandara dan pelabuhan yang terkena dampak, hanya sekitar 23% yang kembali beroperasi.

Layanan listrik, air, telekomunikasi yang terkena dampak saat ini sedang dipulihkan dengan dukungan dari sektor swasta.

Di Filipina Nalgae mendarat di (1) Virac, Catanduanes, (2) Caramoan, Camarines Sur, (3) Buenavista, Quezon, (4) Santa Cruz, Marinduque dan (5) San Juan, Batangas.

Sumber: Hong Kong Observatory (hko.gov.hk), Administrasi Meteorologi China/CMA, Badan Meteorologi Jepang/JMA, Zoom.earth/JTWC, The Associated Press (Apnews.com), dan Reliefweb.int

Exit mobile version