“Kita tahu bahwa negara kita memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas kurang lebih 3,31 juta hektare,” kata Hidayat seperti dikutip dari Brin.go.id.
”Silvo-aquakultur merupakan kegiatan terpadu berkelanjutan antara pengelolaan kawasan mangrove dengan akuakultur berbasis tambak yang memungkinkan pemanfaatan kawasan mangrove sekaligus menjaga kelestariannya.”
Hidayat menjelaskan bahwa mangrove memiliki berbagai fungsi ekologis dan sosial, antara lain melindungi wilayah pesisir dari bencana, menyediakan habitat bagi berbagai biota, menyerap karbon, menjaga proses ekologis, serta mendukung mata pencaharian masyarakat pesisir.
Hidayat juga menyoroti perkembangan publikasi ilmiah terkait silvo-akuakultur di Indonesia. Berdasarkan telaah literatur yang dipaparkannya, terdapat lebih dari 100 publikasi mengenai silvo-fishery dan silvo-aquaculture selama periode 1990–2026. Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif menghasilkan publikasi di bidang tersebut.
Kajian tersebut mencakup aspek kualitas air, keanekaragaman hayati, produktivitas tambak, penyerapan karbon, mitigasi perubahan iklim, hingga pengembangan komoditas budidaya di kawasan mangrove.
Hidayat mengatakan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi mangrove dengan tambak berpotensi memperbaiki kualitas air, mempertahankan keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, dan memberikan manfaat ekonomi.




