Selain kajian literatur, BRIN juga melakukan sejumlah penelitian lapangan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah yang mengintegrasikan mangrove dengan budidaya udang, bandeng, rumput laut, dan kepiting bakau.
Hasil pengamatan menunjukkan adanya potensi peningkatan produktivitas budidaya, ketersediaan pakan alami, serta perbaikan kualitas lingkungan tambak.
Riset lainnya juga mengkaji pemanfaatan limbah budidaya sebagai media pembibitan mangrove. Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular dan pengelolaan pesisir yang berkelanjutan.
Meskipun demikian, Hidayat menyampaikan bahwa pengembangan silvo-akuakultur masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain pengelolaan tata air, kerusakan ekosistem mangrove, kualitas tanah tambak, keterbatasan pengetahuan pembudidaya, serta perlunya dukungan kebijakan dan pendampingan di lapangan.
“Dukungan kebijakan dan pendampingan lapangan sangat diperlukan agar silvo-fishery benar-benar menjadi model akuakultur berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan di daerah pesisir,” ujarnya.
Hidayat berharap pengembangan silvo-akuakultur dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian mangrove melalui keterlibatan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.




