Silvofishery, Model Budidaya Ikan Berkelanjutan yang Menggabungkan Konservasi dan Ekonomi Masyarakat

Tambak

Mangrove dan perikanan budidaya. FOTO: DARILAUT.ID

Darilaut – Keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya terlihat dari tumbuhnya kembali vegetasi mangrove, tetapi juga dari pulihnya rantai makanan alami yang menjadi fondasi bagi pengembangan perikanan berkelanjutan.

Kawasan mangrove hasil rehabilitasi di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menunjukkan potensi besar sebagai model silvofishery atau sistem budidaya berkelanjutan yang mampu menggabungkan konservasi lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengkaji kondisi hutan mangrove yang telah direhabilitasi selama sekitar satu dekade di kawasan Pandansari, Kaliwlingi. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan tambak udang yang rusak akibat abrasi pantai pada awal tahun 2000.

Setelah dilakukan rehabilitasi, ekosistem mangrove berhasil pulih dan kembali menjadi habitat penting bagi berbagai biota pesisir.

Temuan tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Heliyon tahun 2025 berjudul Innovative Silvofishery Model in Restored Mangrove Forests: A 10-Year Assessment.

Peneliti Kelompok Riset Teknologi Perencanaan dan Pengelolaan Kawasan Pelabuhan/Pantai, Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Alin Fithor menjelaskan bahwa penelitian tersebut menunjukkan bahwa hutan mangrove yang telah direstorasi mampu mendukung kehidupan berbagai organisme penting, seperti gastropoda dan kepiting bakau.

“Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa ekosistem telah pulih dan layak dikembangkan melalui sistem silvofishery yang tetap menjaga kelestarian mangrove,” kata Alin seperti dikutip dari Brin.go.id, Jumat (12/6).

Riset yang dilakukan tim peneliti berfokus mengkaji hubungan antara kondisi mangrove, keberadaan gastropoda (siput laut), dan kepiting bakau (Scylla spp.) pada tiga tipe substrat berbeda, yaitu lumpur, pasir, dan campuran lumpur-pasir.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat berlumpur memiliki kepadatan gastropoda tertinggi mencapai 7,20 individu per meter persegi, jauh lebih tinggi dibandingkan substrat berpasir yang hanya 2,36 individu per meter persegi.

Tim peneliti juga menemukan tujuh spesies gastropoda yang hidup di kawasan tersebut. Dua spesies yang paling dominan adalah Cassidula aurisfelis dan Cassidula nucleus. Keberadaan gastropoda menjadi indikator penting karena organisme ini berperan dalam rantai makanan sekaligus mendukung keberadaan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir.

Menurut Alin gastropoda merupakan salah satu komponen penting dalam rantai makanan di ekosistem mangrove. Ketika populasinya terjaga, maka peluang keberhasilan budidaya kepiting bakau melalui sistem silvofishery juga semakin besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingginya kelimpahan gastropoda di kawasan mangrove yang sehat menunjukkan bahwa ekosistem mampu menyediakan sumber makanan alami yang mendukung kehidupan kepiting bakau.

Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi kualitas air di kawasan mangrove masih sangat mendukung kehidupan biota. Suhu perairan berkisar 26–29°C, salinitas 25–31 ppt, dan pH 7,6–8,0 yang masih berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan mangrove, gastropoda, dan kepiting bakau.

“Sistem silvofishery menjadi solusi penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir,” ujarnya.

”Sistem ini menggabungkan konservasi mangrove dengan budidaya perikanan, khususnya kepiting bakau, tanpa merusak ekosistem utama. Silvofishery dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan hutan mangrove.”

Alin juga menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan mangrove secara berkelanjutan. Rehabilitasi mangrove yang dilakukan di Kaliwlingi terbukti tidak hanya mampu menahan abrasi pantai, tetapi juga memulihkan habitat biota pesisir dan membuka peluang ekonomi baru berbasis blue economy.

Alin mengatakan rehabilitasi mangrove tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan pantai dari abrasi, tetapi juga dapat menciptakan habitat yang produktif bagi biota bernilai ekonomi serta membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Dengan keberhasilan rehabilitasi selama satu dekade, kawasan mangrove Kaliwlingi dinilai berpotensi menjadi model pengembangan silvofishery nasional untuk mendukung konservasi pesisir dan ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah pantai Indonesia, kata Alin.

Exit mobile version