Tanjung Puting, Habitat Anggrek Hitam dan Wisata Alam

Taman Nasional Tanjung Puting. FOTO: KSDAE

Darilaut – Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting termasuk salah satu habitat Anggrek Hitam (Coelogyne pandurata). Jenis anggrek ini sudah sangat sulit dijumpai di kawasan hutan dan hutan konservasi di Indonesia.

Upaya konservasi anggrek hitam telah dilakukan melalui kegiatan pengelolaan di dalam habitatnya (in situ).

Selain itu, mengutip Tntanjungputing.id, karena anggrek hitam mulai langka Balai TN Tanjung Puting membuat demplot anggrek tersebut. Demplot ini untuk memulihkan/ meningkatkan populasi anggrek hitam di Tanjung Puting.

Dengan adanya demplot, wisatawan atau pengunjung dapat menikmati keindahan anggrek hitam.

Sebagai kawasan wisata alam, Tanjung Puting sudah di kenal di dunia Internasional. Pada 2018 lalu, tercatat jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke TN Tanjung Puting sebanyak 18.834 orang, lebih tinggi dari wisatawan domestik yang hanya 10.449 orang.

Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke kawasan ini berasal dari berbagai negara di Eropa dan Amerika. Paling banyak yang berkunjung ke TN Tanjung Puting berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Italia, Kanada, New Zeland, Polandia, dan Spanyol.

Kawasan TN Tanjung Puting adalah lokasi yang sangat baik untuk melihat habitat alami Orang utan.

Data hasil inventarisasi satwa Balai Taman Nasional Tanjung Puting tahun 2016, di kawasan seluas 415.040 ha dihuni 917 ekor Orang utan. Selain itu terdapat Bekantan dan Lutung

Tanjung Puting yang berada di Kabupaten Kota Waringin Barat, Kalimantan Tengah, merupakan wilayah hutan rawa air tawar dan hutan bakau.

TN Tanjung Puting telah ditetapkan sebagai Ramsar Site, kawasan untuk melindungi kelestarian dan fungsi lahan basah di dunia.

Penetapan Ramsar Site ini merupakan bentuk komitmen pemerintah Indonesia atas Konvensi Ramsar (The Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat) atau perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan.

Belum lama ini, Balai Taman Nasional Tanjung Puting melakukan pengamatan burung air di Tinggiran sampai dengan Pantai Sungai Cabang. Kegiatan ini untuk berkontribusi di Asian Waterbird Census (AWC) tahun 2022.

Hasil pengamatan, ditemukan sebanyak 6 kelompok burung air dari 12 kelompok burung air yang tercatat di Indonesia.

Exit mobile version