“Mengingat peran strategis tersebut, keandalan SBNP menjadi faktor kunci,” ujar Masyhud, mengutip Brin.go.id.
”Pemanfaatan teknologi smart buoy hasil riset BRIN ini memungkinkan pemantauan kondisi perairan secara real time, sehingga respons darurat dapat dilakukan lebih cepat dan akurat dalam menjamin keselamatan dan kelancaran pelayaran,” katanya, Jumat (13/2).
Secara nasional, SBNP yang dikelola Direktorat Jenderal Perhubungan Laut tersebar di 25 Distrik Navigasi dengan total 5.468 unit.
Dengan cakupan yang luas, sistem pengawasan berbasis teknologi dinilai menjadi kebutuhan strategis agar seluruh sarana navigasi berfungsi optimal dan berkelanjutan.
Alur Pelayaran Tanjung Intan–Cilacap sendiri menjadi simpul penting distribusi bahan bakar minyak dari kilang milik PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap yang berkapasitas produksi 348.000 barel per hari.
Kilang terbesar di Indonesia tersebut memasok sekitar 34 persen kebutuhan BBM nasional dan 60 persen kebutuhan BBM Pulau Jawa.
Pengembangan smart buoy merupakan kelanjutan riset BRIN di bidang elektronika dan informatika yang telah dimulai sejak 2022 melalui nota kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
Pada tahun yang sama, satu purwarupa smart buoy berhasil dipasang di wilayah kerja Distrik Navigasi Tanjung Emas Semarang.




