Sebelum masuk IUCN, Benaya pernah bergabung di salah satu lembaga non-profit internasional yang bergerak di lingkungan hidup dan mendukung pemerintah untuk melakukan pengelolaan perikanan Hiu dan Pari di Provinsi Aceh dan Nusa Tenggara Barat.
Kemudian tahun 2018, Benaya menyelesaikan Training Conservation Leadership Program (CLP) bersama para konservasionis muda dari negara-negara di Asia – Pasifik.

Setelah itu, Benaya seringkali diundang menjadi pelatih identifikasi Hiu baik di tingkat nasional hingga tingkat regional.
Menurut benaya, sebagai perempuan yang bergerak di bidang konservasi dengan pendekatan perikanan bukanlah hal yang mudah.
Dengan pengalaman yang dimiliki, seringkali diundang oleh Badan Pangan Dunia FAO untuk mendiskusikan kondisi Hiu dan Pari sebagai perwakilan Indonesia. Di antaranya saat pertemuan di Vigo Spanyol 2018 dan di Kochi India pada tahun 2019.
Selain menyelesaikan pendidikan sarjana di Undip, Benaya melanjutkan studi di sekolah pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) Program Studi Teknologi Perikanan Laut.
Selanjutnya, pada 2019, Benaya bergabung dengan gerakan konservasionis internasional. Kegiatan ini untuk menumbuhkan harapan tentang bumi dan mempresentasikan kondisi perikanan Hiu dan Pari di Indonesia dalam Conservasion Optimism di Universitas Oxford.





Komentar tentang post